Musibah tragis menimpa Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9) sore. Runtuhnya mushalla pesantren putra saat Shalat Asar berjamaah ini menyebabkan korban jiwa. Peristiwa memilukan tersebut segera menarik perhatian luas, termasuk perbincangan intens di ranah digital.
Insiden ini, yang terjadi di pesantren yang didirikan KH Khozin pada tahun 1920, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, membawa dampak emosional mendalam. Ponpes Al Khoziny dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tua dengan ribuan santri dan alumni yang tersebar hingga mancanegara. Sejumlah pendiri NU bahkan memiliki kaitan historis dengan pesantren bertetangga.
Hingga Sabtu (4/10) pagi, Tim Basarnas melaporkan 14 korban meninggal dunia dan puluhan lainnya masih dalam pencarian akibat musibah ini. Namun, di tengah upaya evakuasi dan penanganan korban, sorotan tajam dari warganet di era digital justru mengarah pada aspek teknis, memicu "framing" yang mungkin tidak sepenuhnya merefleksikan fakta di lapangan.
Advertisement
Advertisement
Musibah yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny ini segera menjadi perbincangan hangat di berbagai platform digital. Warganet, dengan cepat, mulai menyoroti berbagai aspek teknis yang dianggap sebagai penyebab atau pemicu tragedi. Fokus utama perdebatan adalah mencari kesalahan, seringkali tanpa mempertimbangkan konteks kemanusiaan yang lebih luas dari musibah Pesantren Al Khoziny.
Beberapa isu teknis yang mencuat antara lain lambannya penggunaan alat berat dalam proses evakuasi, dugaan eksploitasi santri dalam pembangunan, serta isu eksploitasi bantuan. Selain itu, struktur bangunan yang dianggap tidak memenuhi standar keselamatan dan ketiadaan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) juga menjadi poin kritik. Bahkan, istilah "takdir" yang disampaikan pengasuh pesantren pun tidak luput dari sorotan negatif.
Menanggapi kritik tentang kelambanan alat berat, Tim Basarnas memberikan klarifikasi penting. Mereka menjelaskan bahwa "penggunaan alat berat yang terkesan lamban itu justru karena Tim Basarnas masih mempertimbangkan pola reruntuhan di Pesantren Al Khoziny, yakni pancake (material reruntuhan saling tumpang tindih dan tidak stabil), sehingga membutuhkan penopang sebelum evakuasi." Kondisi ini membutuhkan penopang sebelum evakuasi dapat dilakukan secara aman.
Advertisement
Proses evakuasi yang hati-hati ini bertujuan untuk memaksimalkan peluang penyelamatan korban yang mungkin masih hidup dalam golden time 72 jam pertama. Petugas lapangan tidak bisa gegabah karena tindakan yang tidak tepat justru dapat membahayakan korban dan tim penyelamat. Pendekatan ini menunjukkan pertimbangan matang dalam penanganan musibah Pesantren Al Khoziny.
Advertisement
Isu mengenai dugaan eksploitasi santri dalam pembangunan pesantren, mengingat ketidaktahuan mereka akan masalah struktur bangunan, juga mendapatkan bantahan. Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI/Ikatan Pesantren) NU Jatim, Ahmad Firdausi, menegaskan bahwa tradisi roan (kerja bakti) merupakan bagian dari semangat gotong royong dan kebersamaan di pesantren. "Tradisi roan (kerja bakti) itu ada di semua pesantren, bukan cuma Al Khoziny," ujarnya.
Firdausi menambahkan bahwa ketidaktahuan santri dan kiai dalam hal teknis bangunan bukanlah bentuk kelalaian yang disengaja, melainkan bermula dari kurangnya pemahaman teknis. Ke depannya, ia mengakui pentingnya melibatkan tim teknis profesional dalam pembangunan gedung pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesadaran untuk perbaikan di masa mendatang demi keselamatan.
Tuduhan eksploitasi bantuan juga terbantahkan oleh fakta di lapangan. Pengasuh pesantren bertindak sebagai wasilah atau jembatan penyalur bantuan, yang terbukti didistribusikan kepada keluarga santri korban. Bahkan, beberapa keluarga korban memilih mengembalikan bantuan untuk rehabilitasi mushalla, menunjukkan keikhlasan dan kepercayaan mereka. Sekretaris NUcare LazisNU Jawa Timur, Moch Rofi'i Boenawi, mencontohkan kasus keluarga korban dari Bangka Belitung yang menolak bantuan pemulangan jenazah karena keikhlasan mereka.
Advertisement
Berbagai elemen NU, termasuk PBNU, PWNU, dan PCNU, melalui Lazisnu, LPBI, RMI, dan Satgas NU Peduli Al Khoziny, telah aktif melakukan mitigasi sejak Selasa (30/9). Mereka mendirikan dapur umum, posko pengaduan, posko donasi, serta empat posko satgas di lokasi musibah, rumah sakit, dan rumah duka. Ini menunjukkan respons cepat dan terkoordinasi dalam membantu korban musibah Pesantren Al Khoziny.
Advertisement
Informasi dan klarifikasi dari Tim Basarnas, Tim Satgas NU Peduli Al Khoziny, serta keikhlasan pengasuh pesantren dan keluarga korban, menunjukkan bahwa sorotan teknis di ruang digital seringkali terjebak dalam framing yang logis namun tidak selalu sesuai dengan fakta di lapangan. Pesantren, dalam menghadapi musibah, lebih mengedepankan pendekatan agama dan etika yang berkualitas.
Meskipun demikian, tragedi runtuhnya mushalla ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pesantren di Indonesia. Pentingnya menyiapkan gedung atau sarana pendidikan yang berorientasi pada keselamatan para santri dan seluruh warga pesantren menjadi prioritas utama. Evaluasi menyeluruh terhadap standar bangunan dan prosedur keselamatan harus dilakukan secara berkala.
Peristiwa musibah Pesantren Al Khoziny juga menyoroti pentingnya pengelolaan informasi yang akurat dan berimbang di era digital. Memastikan bahwa narasi yang berkembang di masyarakat tidak hanya berfokus pada aspek teknis semata, tetapi juga mempertimbangkan dimensi kemanusiaan dan konteks budaya lokal, adalah krusial. Ini membantu mencegah penyebaran informasi yang tidak tepat dan menjaga suasana kondusif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews