Taufiq Kiemas dikenang sebagai sosok negarawan yang memperjuangkan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Di balik perjuangan politiknya, pria yang wafat pada 8 Juni 2013 itu meninggalkan cerita perjalanan cinta dengan sang istri, Megawati Soekarnoputri.
Sebelum bertemu Megawati, Taufiq tumbuh menjadi seorang Soekarnois yang militan saat tinggal di Palembang. Militansi itu berawal dari kekaguman saat dia mendengar pidato Bung Karno di radio.
Saat mengeyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Taufiq memutuskan bergabung dengan GMNI. Karena militansinya dan kepandaiannya bergaul, dalam waktu singkat Taufiq dipercaya menjadi Ketua GMNI Palembang.
Pergaulan politiknya pun tidak lagi sebatas anak-anak GMNI, juga dengan tokoh-tokoh politik di Palembang. Bahkan dengan sejumlah tokoh muda nasional, seperti Guntur Soekarnoputra.
Peristiwa Gestok 1965, membalikkan suasana. Kekuasaan Bung Karno surut. Para Soekarnois sejati, termasuk Taufiq, harus mendekam di penjara rezim Orde Baru. Dua kali dia dipenjara: di Markas CPM Palembang dan RTM Budi Utomo Jakarta.
Namun, saat mendekam di penjara gelombang asmaranya dengan Megawati Soekarnoputri pun tumbuh. Angan-angan atau firasat Taufiq untuk menyunting Megawati Soekarnoputri sudah bersemi.
Di awal tahun 1971, setelah Megawati menjanda karena suaminya, Letnan (Penerbang) Surindro Suprijarso, wafat akibat kecelakaan pesawat di sekitar Pulau Biak, dia diperkenalkan Megawati oleh Guntur Soekarno.
Pertemuan Awal
Mengutip buku Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam: 70 Tahun Taufiq Kiemas. Ketika itu Taufiq bersama Guntur Soekarnoputra dan sejumlah sahabat berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.
Seusai ziarah, mereka menyempatkan ke kompleks Perumahan AURI di Madiun, Jawa Timur, tempat Megawati tinggal. Di sanalah, keduanya berkenalan untuk pertama kalinya. Meskipun sebelumnya Guntur telah menyebutkan nama Taufiq kepada Megawati, baru saat itu mereka bertatap muka.
Setahun setelah perkenalan, pada Maret 1973, Megawati dan Taufiq melangsungkan pernikahan sederhana di Panti Perwira, Jakarta Pusat. Dalam pernikahan ini, Megawati telah memiliki dua anak dari pernikahan sebelumnya, yaitu Mohammad Rizki Pratama (Tamtam) dan Mohammad Prananda (Nanan).
Taufiq dengan penuh kasih sayang menerima dan mengasuh mereka tanpa membedakan. Pada 1974, pasangan ini dikaruniai seorang putri, Puan Maharani.
Sama-Sama Terjun ke Dunia Politik
Taufiq dan Megawati kemudian terjun ke dunia politik. Mereka berkiprah di Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Di masa-masa kritis, terutama setelah KLB PDI di Surabaya akhir tahun 1993 di mana Megawati terpilih sebagai Ketua Umum PDI, Taufiq terus mendampingi sang istri. Dia lebih banyak bergerak di belakang layar.
Di masa reformasi, Taufiq merupakan motor utama pendirian PDI Perjuangan. Dia pula yang berperan besar mengantarkan Megawati Soekarnoputri menjadi Wakil Presiden RI, dan kemudian Presiden RI.
Puncak karier politik Taufiq Kiemas sendiri adalah saat terpilih secara aklamasi sebagai Ketua MPR RI di tahun 2009. Di tengah masa kepemimpinannya, 8 Juni 2013, beliau berpulang ke haribaan Allah SWT.
Advertisement