Mataram, NTB – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram melaporkan hasil uji coba yang signifikan dari pengolahan sampah menggunakan teknologi insinerator. Dari 3-5 ton sampah yang diolah setiap hari, residu yang dihasilkan hanya berkisar 9-10 kilogram. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar dalam penanganan limbah perkotaan.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Mataram, Vidi Yuris Gamanjaya, menyatakan bahwa hasil uji coba insinerator sampah ini sangat memuaskan. "Dalam sehari kami uji coba tangani sampah dengan insinerator sebanyak 3-5 ton per hari, residu hanya 9-10 kilogram," katanya, Minggu (21/9). Ini menjadi angin segar bagi upaya pengurangan volume sampah.
Pengurangan residu yang drastis ini diharapkan mampu meringankan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok di Lombok Barat. Selain itu, penggunaan insinerator juga berpotensi menekan biaya operasional yang selama ini dikeluarkan. Efisiensi ini mencakup pengurangan bahan bakar minyak, sumber daya manusia, serta retribusi sampah di TPA.
Advertisement
Advertisement
Efektivitas Insinerator dalam Pengelolaan Sampah Kota
Teknologi insinerator terbukti sangat efektif dalam mengelola volume sampah yang terus meningkat di perkotaan. Dengan kemampuan mengolah hingga 5 ton sampah per hari dan menyisakan residu yang minimal, insinerator menjadi solusi yang menjanjikan. "Karena itu, pemanfaatan insinerator untuk mengolah sampah dinilai lebih efektif," ujar Vidi Yuris Gamanjaya.
Dampak positif dari penerapan insinerator tidak hanya terbatas pada pengurangan volume sampah. DLH Mataram juga memproyeksikan penghematan signifikan pada biaya operasional. Pengurangan frekuensi pengangkutan sampah ke TPA dan biaya retribusi menjadi beberapa contoh nyata efisiensi yang dapat dicapai.
Uji coba yang telah berlangsung sejak awal September 2025 ini dilakukan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) konvensional Sandubaya. Meskipun saat ini masih menggunakan mesin genset, hasil yang diperoleh sudah sangat menggembirakan. Ini menunjukkan bahwa teknologi insinerator sampah memiliki potensi besar untuk diterapkan secara luas.
Advertisement
Advertisement
Tantangan dan Rencana Pengembangan Insinerator di Mataram
Meskipun menunjukkan hasil positif, pengoperasian insinerator di Mataram masih menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait kebutuhan daya listrik. Saat ini, DLH Kota Mataram sedang mengusulkan penambahan daya listrik sebesar 33.000 watt untuk mengoperasikan insinerator bantuan dari Korea. Anggaran sebesar Rp30 juta untuk pembayaran telah masuk dalam APBD perubahan 2025.
"Harapan kami, bulan Oktober setelah APBD perubahan disahkan, tambahan listrik sudah bisa terbayar dan direalisasikan," kata Vidi. Penambahan daya listrik ini krusial untuk memastikan insinerator dapat beroperasi secara optimal tanpa bergantung pada genset. Ini akan meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan operasional.
Ke depan, DLH Mataram berencana untuk mengoperasikan lebih banyak unit insinerator. Selain unit bantuan dari Korea, ada juga insinerator limpahan dari RS H Moh Ruslan dan unit yang dibeli tahun ini dengan pagu anggaran Rp3,5 miliar. Jika semua unit beroperasi, penambahan daya listrik lebih lanjut akan diperlukan.
Advertisement
Vidi menambahkan, pihaknya akan mengupayakan kebutuhan tambahan daya listrik dari efisiensi pembelian insinerator yang baru. "Semoga dengan tiga unit mesin insinerator yang akan beroperasi di TPST, bisa mengoptimalkan penanganan sampah di kota ini," harapnya. Langkah ini merupakan komitmen Mataram dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews