Keluarga korban meninggal ledakan amunisi tidak layak pakai di Garut mengungkapkan fakta baru. Korban meninggal dalam kejadian tersebut bukan pemburu logam bekas amunisi, melainkan pegawai.
Salim (63) salah seorang saksi mata dan keluarga korban meninggal mengatakan di hari kejadian, atau pada Senin (12/5) memang banyak orang yang memburu serpihan logam. Menurutnya, jumlah warga yang terlibat lebih dari 100 orang. Semuanya dipastikan selamat.
“Warga yang mencari bekas serpihan logam amunisi itu enggak ada yang celaka. Semuanya selamat,” kata Salim.
Menurutnya, untuk korban yang meninggal berasal dari kalangan pegawai yang meninggal di ledakan ketiga. Di antara korban meninggal adalah dua adiknya Salim yang yang Bernama Iyus dan Anwar Munawar. Kedua korban merupakan warga Kecamatan Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.
Salim menjelaskan kedua adiknya itu ikut bekerja memusnahkan amunisi tidak layak pakai. Meski begitu dirinya tidak mengetahui secara pasti bagaimana kronologi kedua adiknya bisa menjadi korban.
"Kalau kronologinya bagaimana saya tidak tahu. Apakah kedua adik saya sedang menyusun (amunisi tidak layak pakai yang akan dimusnahkan) atau sedang bagaimana, enggak tahu saya," jelasnya.
Terkait disposal yang menyebabkan kedua adiknya meninggal, Salim menyebut bahwa insiden itu terjadi di lubang ketiga karena dua sebelumnya berjalan normal.
"Yang dua itu ledakan resmi, kalau yang terakhir mah bukan," ucapnya.
Atas hal tersebut, Salim mengaku akan mencari kejelasan kaitan dengan hal tersebut. Dengan begitu, dia bisa mengetahui penyebab kedua adiknya meninggal dunia.
Advertisement
Firasat Keluarga
Sementara Dede, istri korban lainnya bernama Endang Rahmat mengaku sempat berfirasat buruk ketika menerima kabar adanya kejadian di lokasi pemusnahan amunisi tidak layak pakai. Bukan tanpa alasan, itu karena suaminya ikut bekerja dalam proyek tersebut.
“Ketika ada kabar (kejadian ledakan) saya langsung firasat (suami) meninggal,” ucapnya.
Firasatnya itu ternyata nyata. Dia kemudian menerima kabar suaminya menjadi salah satu dari belasan korban meninggal dalam peristiwa itu.
Ening, warga yang berjualan di sekitar lokasi kejadian mengatakan dirinya langsung menduga terjadi hal yang tidak diinginkan ketika ledakan ketiga bergema. Itu karena setelah ledakan tersebut mobil berdatangan, termasuk ambulans.
“Kalau ada peledakan biasanya ada sirine agar menjauh dari lokasi ledakan dan baru boleh mendekat setelah terdengar suara ledakan. Pas kejadian itu, setelah terdengar suara ledakan yang datang mobil seperti ambulans, saya langsung mikir ini pasti ada apa-apa, dan ternyata betul,” katanya.