Wamenaker Bahas Nasib Ratusan Karyawan Hotel Bumi Wiyata Depok, Minta Dedi Mulyadi Longgarkan Soal Larangan Wisuda Sekolah

Dari hasil komunikasi tersebut kemudian menghasilkan hal positif, karena kedua pihak memiliki pengertian terhadap satu sama lain.

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Wamenaker Bahas Nasib Ratusan Karyawan Hotel Bumi Wiyata Depok, Minta Dedi Mulyadi Longgarkan Soal Larangan Wisuda Sekolah
Wamenaker Bahas Nasib Ratusan Karyawan Hotel Bumi Wiyata Depok, Minta Dedi Mulyadi Longgarkan Soal Larangan Wisuda Sekolah (Merdeka.com)

Karyawan Hotel Bumi Wiyata hari ini kembali turun ke jalan menyuarakan aspirasi. Tuntutan mereka adalah pembayaran gaji bulan Maret-April dan tunjangan hari raya (THR) yang belum diberikan. Mereka orasi di tengah kegiatan hari bebas kendaraan atau car free day (CFD) Depok pekan kedua.

Aksi karyawan ini mendapat perhatian dari Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer atau akarab disapa Noel. Dia melakukan diskusi dengan karyawan dan manajemen untuk mendapat jalan keluar. Dari hasil komunikasi tersebut kemudian menghasilkan hal positif, karena kedua pihak memiliki pengertian terhadap satu sama lain.

“Artinya tinggal nanti manajemen dan kawan-kawan pekerja ini bisa mencari jalan komunikasi yang positif,” kata Noel, Minggu (11/5).

Dia baru mengetahui ada sejumlah persoalan di hotel tersebut. Misalnya belum digajinya karyawan selama dua bulan serta THR yang belum diberikan.

“Tapi tadi kita diskusikan bersama, semua didengar kawan-kawan pekerja dan manajemen, yaitu akan mereka cari jalan solusinya, entah itu solusinya seperti apa, yang jelas mereka akan mencari solusi yang terbaik dalam mengatasi persoalan tadi,” ujar dia.

Minta Dedi Mulyadi Longgarkan Soal Larangan Wisuda Sekolah

Dia pun akan meminta kelonggaran pada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk memperbolehkan digelarnya wisuda. Sehingga nantinya itu akan menjadi revenue hotel dan bisa membayarkan gaji karyawan.

“Misalnya di sini kan terbiasa mereka ada wisuda sekolah, nanti kita sampaikan ke Kang Dedi Gubernur Jawa Barat untuk dilonggarkan sedikit lah, jangan terlalu keras,” kata Noel.

Menurutnya, industri perhotelan bisa hidup kembali jika ada kelonggaran tersebut. Karena mereka punya ketergantungan terhadap agenda wisuda sekolah. Dikatakan sudah banyak keluhan dari industri perhotelan mengenai dampak dari dilarangnya kegiatan wisuda.

“Apalagi ini bulan ini musim wisuda nih, biar mereka dapat duit dari yang wisuda-wisuda itu. Itu bukan keluhan, itu realita, jangan sampai hal ini malah mengganggu industri perhotelan kita,” tukasnya.

Penjelasan Manajemen Hotel

Sementara itu, Direktur PT Bumi Putra Wisata, Musheri selaku perwakilan manajemen Hotel Bumi Wiyata mengatakan menurunnya pendapatan Hotel memang disebabkan dari ekonomi makro dan mikro. Bahkan, kebijakan efisiensi sejak Januari 2025, hampir semua hotel kesulitan untuk memenuhi 30 persen pengeluaran. Hotel Bumi Wiyata sendiri kebanyakan diisi untuk acara-acara instansi, seperti diklat, seminar dan juga event wedding. Namun, kata Musheri, setelah pemerintah melakukan efisiensi, perusahan swasta pun ikut efisiensi.

“30 persen itu ibaratnya bayar fix cost, listrik dan air sudah berat, sementara ada biaya-biaya komponen yang harus dipenuhi. Jadi (pembayaran) utang kepada vendor, itu juga tertunda semua. Karena bisnisnya juga terganggu, jadi yang tadinya rapat 10 orang di hotel. Sekarang di kantor saja atau zoom meeting. Itu terasa, yang jelas dari situ saja kita sudah 64 persen (merosot) kita paling sekarang rata-rata di 30-33 persen," kata Musheri.

Meski begitu, Musheri mengakui pasca Covid-19 hotel yang dikelolanya mengalami profit hingga akhir Desember 2024 kendati terbilang kecil.

“Sejak 2022 alhamdulillah dengan teman-teman bersama ada profit walaupun belum bisa dibagi, kalau dibagi pun belum memadai. Kemudian di 2023 ada profit walaupun hanya Rp9- Rp10 juta, 2024 profit, tapi di 2025 sampai Maret sudah minus 1 sekian miliar,” pungkasnya.

Rekomendasi