Arti Lailatul Qadar dan Ciri-cirinya, Malam Seribu Bulan yang Penuh Kemuliaan

Memahami makna Lailatul Qadar, manfaatnya, tanda-tanda malam tersebut, serta amal ibadah yang sebaiknya dilakukan pada malam itu.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Arti Lailatul Qadar dan Ciri-cirinya, Malam Seribu Bulan yang Penuh Kemuliaan
Ilustrasi masjid, Islami, muslim, doa. Credit: pexels.com/Lia (© 2025 Liputan6.com)

Bulan Ramadan dikenal sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat. Namun, di dalamnya terdapat satu malam istimewa yang keutamaannya sangat luar biasa, yakni malam Lailatul Qadar. Malam ini disebut lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana ditegaskan langsung dalam Al-Quran Surat Al-Qadr ayat 3:

"Lailatul Qadar khairun min alfi syahr", yang berarti “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Keistimewaan malam ini tidak hanya tentang kemuliaannya yang dibandingkan dengan seribu bulan. Di malam ini pula para malaikat turun dengan izin Allah SWT.

Lailatul Qadar juga disebut sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS. Al-Qadr: 1). Maka malam ini menjadi simbol dari petunjuk, rahmat, dan penetapan takdir yang penuh hikmah.

1. Makna Kata Qadar dan Penafsiran Para Ulama

Makna dari kata "qadar" dalam konteks Lailatul Qadar memiliki beberapa tafsiran menurut para ulama. Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al-Qur'an menjelaskan bahwa istilah "qadar" setidaknya mengandung tiga makna yang saling berkaitan, yaitu penetapan, kemuliaan, dan kesempitan. Pertama, qadar diartikan sebagai penetapan, yang menunjukkan bahwa malam ini merupakan malam penetapan takdir manusia untuk tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ad-Dukhan ayat 4, yang menyatakan, "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." Dengan demikian, Lailatul Qadar menjadi malam yang sangat signifikan dalam menentukan takdir kehidupan manusia.

Kedua, qadar juga diartikan sebagai kemuliaan. Makna ini sesuai dengan posisinya sebagai malam diturunkannya Al-Qur'an, yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam QS. Al-An'am ayat 91, Allah berfirman, "Mereka tidak memuliakan Allah sebagaimana mestinya," yang menguatkan arti qadar sebagai kemuliaan. Ketiga, qadar berarti sempit, yang merujuk pada suasana malam tersebut yang dipenuhi oleh para malaikat. Hal ini menyebabkan langit dan bumi terasa 'sempit' karena banyaknya malaikat yang turun. Dalam QS. Al-Qadr ayat 4, ditegaskan, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

2. Waktu Terjadinya Lailatul Qadar yang Disembunyikan

Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa dan terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Rasulullah bersabda, "Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan." (HR. Bukhari). Malam-malam yang dimaksud mencakup malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Meskipun demikian, tidak ada tanggal pasti yang disepakati oleh para ulama. Dalam riwayat lain, Rasulullah juga mengingatkan, "Carilah pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa." (HR. Bukhari).

Hal ini menunjukkan bahwa waktu Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah sebagai ujian untuk umat Islam agar mereka berusaha lebih giat dalam beribadah selama akhir bulan Ramadan. Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, malam Lailatul Qadar tidak selalu jatuh pada malam yang sama setiap tahunnya. Kadang-kadang, malam ini terjadi pada malam ke-27, tetapi bisa juga terjadi pada malam ke-25 atau malam lainnya, tergantung pada hikmah dan kehendak Allah Ta'ala. Dengan demikian, penting bagi umat Islam untuk tetap beribadah dan mencari malam yang penuh berkah ini.

3. Ciri-Ciri Malam Lailatul Qadar Berdasarkan Hadis

Malam Lailatul Qadar memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dikenali, meskipun kepastiannya tidak sepenuhnya dapat dijamin. Berbagai hadis sahih menjelaskan tanda-tanda tersebut. Salah satu tanda yang disebutkan adalah suasana malam yang damai, tidak terlalu panas maupun dingin, dan diikuti dengan terbitnya matahari keesokan harinya yang tidak menyilaukan.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Lailatul Qadar adalah malam yang tenang, cerah, tidak panas, juga tidak dingin. Pada pagi harinya, matahari terbit dengan lemah dan kemerahan.” (HR. Ath-Thoyalisi, periwayat tsiqah menurut Al-Haitsami).

Ciri lain yang dirasakan oleh sebagian orang adalah kelezatan dalam ibadah. Banyak yang mengaku merasa lebih khusyuk dan damai saat beribadah di malam tersebut, seolah-olah diberi ketenangan batin yang tidak biasa.

4. Amalan Utama yang Dianjurkan Dilakukan

Lailatul Qadar merupakan malam yang paling utama untuk meningkatkan ibadah. Rasulullah sangat menekankan pentingnya mengisi malam ini dengan qiyamullail (shalat malam), membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa. Ini adalah waktu yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampunan.

Satu doa yang sangat dianjurkan dibaca di malam tersebut diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?” Rasulullah menjawab: “Katakanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni.” (HR. Tirmidzi).

Makna dari doa tersebut sangat mendalam, yaitu memohon ampunan dengan penuh kelembutan dan kerendahan hati kepada Allah yang Maha Pengampun. Ini merupakan permohonan terbaik untuk keselamatan di dunia dan akhirat pada malam yang sarat dengan ketentuan takdir. Selain itu, bersedekah dan berbuat kebaikan kepada sesama juga sangat dianjurkan. Pada malam ini, segala amal akan dilipatgandakan, dan pintu-pintu rahmat Allah akan dibuka lebar.

5. Mengapa Lailatul Qadar Disembunyikan dan Siapa yang Mendapatkannya

Salah satu pelajaran berharga yang dapat diambil dari penyembunyian malam Lailatul Qadar adalah agar umat Islam tidak hanya fokus beribadah pada satu malam tertentu, tetapi juga berupaya untuk meningkatkan amal ibadah selama sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Dengan cara ini, terlihat jelas siapa yang benar-benar berkomitmen dan siapa yang bersikap malas. Dalam sebuah kutipan dari ulama, disebutkan, "Barang siapa yang melewatkan momen-momen kebaikan ini, maka betapa besar kerugian dan penyesalan yang menimpanya." Pernyataan ini menegaskan betapa pentingnya kesiapan dan semangat untuk meraih malam yang penuh berkah ini.

Mereka yang berhasil mendapatkan malam tersebut adalah orang-orang terpilih yang diberikan taufik oleh Allah. Biasanya, mereka adalah individu yang tekun dalam beribadah sepanjang bulan Ramadan dan tidak merasa lelah untuk terus mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, semangat dan usaha yang dilakukan dalam sepuluh malam terakhir ini menjadi sangat berarti, karena dapat menentukan siapa yang akan merasakan keistimewaan malam Lailatul Qadar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (PAA)

1. Apa itu malam Lailatul Qadar dan mengapa disebut lebih baik dari seribu bulan?

Lailatul Qadar adalah malam istimewa di bulan Ramadan yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan karena pada malam itu Allah menetapkan takdir, menurunkan Al-Qur’an, dan melimpahkan keberkahan.

2. Kapan Lailatul Qadar terjadi?

Malam Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, namun tanggal pastinya dirahasiakan oleh Allah.

3. Apa ciri-ciri malam Lailatul Qadar?

Ciri-cirinya antara lain suasana malam yang tenang, suhu tidak panas atau dingin, dan matahari terbit keesokan harinya dalam keadaan jernih tanpa sinar menyilaukan.

4. Apa doa yang dibaca pada malam Lailatul Qadar?

Doa yang dianjurkan adalah: “Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni” yang artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka ampunilah aku.”

5. Apa yang harus dilakukan agar mendapat Lailatul Qadar?

Perbanyak ibadah, khususnya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, bangun malam untuk shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan menjauhi maksiat.

Rekomendasi