Jadi Gunung Tertinggi Berselimut Salju di Indonesia, Ini Fakta-Fakta Puncak Carstensz Pyramid Papua

Puncak Carstensz Pyramid, atau Puncak Jaya, adalah gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Jadi Gunung Tertinggi Berselimut Salju di Indonesia, Ini Fakta-Fakta Puncak Carstensz Pyramid Papua
Jadi Gunung Tertinggi Berselimut Salju di Indonesia, Ini Fakta-Fakta Puncak Carstensz Pyramid Papua (Merdeka.com)

Puncak Carstensz Pyramid, yang juga dikenal sebagai Puncak Jaya, adalah gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Keunikan dari gunung ini terletak pada adanya salju abadi di puncaknya, meskipun terletak di daerah tropis yang biasanya memiliki cuaca panas. Fenomena ini menjadikannya salah satu keajaiban alam yang menarik perhatian banyak pendaki, ilmuwan, dan pecinta alam.

Namun, dampak perubahan iklim telah menyebabkan penipisan salju abadi di Puncak Carstensz. Menurut data, sejak tahun 1970-an, luas gletser di puncak ini mengalami penurunan yang signifikan akibat pemanasan global. Bahkan, para ahli memperkirakan bahwa dalam beberapa dekade mendatang, es yang menutupi puncak tertinggi Indonesia ini bisa saja hilang sepenuhnya.

Selain faktor lingkungan, Puncak Carstensz juga memiliki sejarah yang panjang dalam dunia eksplorasi dan pendakian. Sejarah ini mencakup penamaan oleh penjelajah Belanda, pendakian perdana oleh ekspedisi Eropa, serta perubahan namanya menjadi Puncak Jaya. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang Carstensz Pyramid yang perlu diketahui, dirangkum dari Merdeka.com, Minggu (2/3).

Ditemukan oleh Pelaut Belanda

Menurut informasi yang dipublikasikan di puncakkab.go.id, Puncak Carstensz pertama kali ditemukan oleh Jan Carstenszoon, seorang penjelajah asal Belanda, pada tahun 1623. Dalam laporannya, ia menyebutkan adanya salju di puncak gunung yang terletak dekat garis khatulistiwa, sebuah hal yang pada waktu itu dianggap tidak mungkin oleh banyak orang Eropa. Karena laporan ini, banyak yang meragukan kebenarannya hingga terbukti beberapa abad kemudian.

Pendakian pertama yang berhasil mencapai area bersalju di kawasan ini dilakukan oleh Hendrikus Albertus Lorentz, seorang penjelajah Belanda, pada tahun 1909. Ia berangkat bersama enam anggota suku Kenyah yang direkrut dari Kalimantan Utara. Lorentz berhasil menunjukkan bahwa salju memang ada di puncak gunung yang kini dikenal dengan nama Puncak Jaya, dan ia mencatat temuan tersebut dalam catatan ekspedisinya.

Nama Carstensz Pyramid masih dipakai oleh para pendaki hingga saat ini, walaupun secara resmi pemerintah Indonesia telah mengganti namanya menjadi Puncak Jaya pada tahun 1963. Perubahan nama ini dilakukan sebagai penghormatan kepada Presiden Soekarno, dan akhirnya ditetapkan bahwa nama resmi gunung tersebut adalah Puncak Jaya.

Lebih dari Sekadar Puncak Tertinggi

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Puncak Carstensz terletak di Pegunungan Jayawijaya, Papua, dan merupakan bagian dari Taman Nasional Lorentz yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1999. Kawasan ini memiliki keunikan geografis yang istimewa karena termasuk dalam lima pegunungan kars di dunia yang masih memiliki salju tropis. Selain itu, lingkungan sekitar Puncak Carstensz kaya akan flora dan fauna endemik yang hanya dapat ditemukan di Papua.

Keberadaan pegunungan ini memberikan manfaat ekologi yang signifikan, termasuk sebagai sumber air bagi masyarakat setempat. Kondisi alam yang ekstrem, dengan tebing curam dan suhu yang rendah, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tantangan terbesar bagi para pendaki dari seluruh dunia. Pegunungan kars yang membentuk Puncak Carstensz juga memiliki peranan penting dalam penelitian geologi, di mana struktur batuan kapur yang terlarut oleh air hujan menciptakan bentang alam yang unik dan sulit ditemukan di lokasi lain, sehingga menambah daya tarik ilmiah kawasan ini.

Jalur pendakian yang paling sulit dimiliki

Pendakian menuju Puncak Carstensz bukanlah aktivitas yang mudah. Berbeda dengan gunung-gunung lain di Indonesia yang memiliki jalur pendakian lebih bersahabat, Carstensz Pyramid menawarkan rute yang sangat teknis dengan jurang-jurang curam yang memerlukan keahlian panjat tebing tingkat tinggi. Oleh karena itu, hanya pendaki yang memiliki pengalaman yang cukup yang biasanya berani mencoba menaklukkan gunung ini.

Akses untuk mencapai Puncak Carstensz juga terbilang sulit. Jalur pendakian yang paling sering dipilih adalah melalui Ilaga dan Sugapa, yang mengharuskan pendaki menempuh perjalanan panjang melewati hutan belantara dan medan yang berat sebelum tiba di basecamp. Selain itu, biaya yang diperlukan untuk ekspedisi ke puncak ini cukup tinggi, sehingga tidak semua orang dapat melakukannya.

Walaupun penuh tantangan, Puncak Carstensz tetap memiliki daya tarik yang kuat bagi para pendaki dari seluruh dunia. Sebagai salah satu dari Seven Summits, yaitu tujuh puncak tertinggi di masing-masing benua, tempat ini menjadi salah satu tujuan utama bagi para pendaki yang ingin menyelesaikan daftar tersebut.

"Cartenz Pyramid merupakan lokasi pergunungan kars yang memiliki arti penting bagi Indonesia dan dunia. Berdasarkan data pada 1992 salju di Puncak Jaya mencapai areal seluas 3.300 ha. Kars Papua secara umum berada di pematang Perbukitan Tengah yang berketinggian 3000-4.500 dpl." tulis esdm.go.id

Dianggap Sakral oleh Masyarakat Setempat

Bagi masyarakat adat Papua, khususnya suku Amungme, Puncak Jaya memiliki makna spiritual yang mendalam. Mereka menyebut puncak ini sebagai "Nemangkawi Ninggok," yang berarti panah putih, dan menganggapnya sebagai tempat sakral yang harus dihormati. Hubungan erat antara masyarakat lokal dengan gunung ini menjadikan Puncak Carstensz bukan sekadar objek geografis, tetapi juga bagian dari identitas budaya mereka.

Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, gunung ini juga menjadi sumber mata pencaharian bagi penduduk sekitar, terutama dalam sektor pariwisata dan ekspedisi pendakian. Meskipun masih terbatas, kunjungan pendaki dari dalam maupun luar negeri membantu meningkatkan ekonomi lokal.

Sebagai salah satu ikon alam Indonesia, Puncak Carstensz tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga simbol penting yang mencerminkan keanekaragaman alam dan budaya Papua. Sayangnya, dengan ancaman perubahan iklim yang terus berlanjut, keberadaan salju abadi di puncak ini semakin terancam dan membutuhkan perhatian lebih dari berbagai pihak.

Es Diramalkan Akan Mencair

Saat ini, meskipun Puncak Jaya masih memiliki sedikit lapisan es yang diperkirakan akan mencair, terdapat beberapa gletser yang dapat ditemukan di lerengnya, seperti Gletser Carstensz, Gletser Northwall Firn Barat, dan Gletser Northwall Firn Timur. Namun, di sisi lain, gletser yang berada di Puncak Trikora di Pegunungan Maoke telah sepenuhnya hilang antara tahun 1939 dan 1962. Sejak tahun 1970-an, citra satelit menunjukkan bahwa gletser di Puncak Jaya mengalami penurunan yang sangat cepat. Gletser Meren, misalnya, mengalami pencairan antara tahun 1994 hingga 2000.

Pada tahun 2010, sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh paleoklimatolog Lonnie Thompson menemukan bahwa gletser tersebut menghilang dengan laju penipisan mencapai 7 meter per tahun dan diperkirakan akan punah sepenuhnya. Mengutip dari kanal Regional Liputan6.com pada Kamis (7/9/2023), Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa salju abadi atau lapisan es di Puncak Jaya Papua terus mengalami penurunan yang signifikan dan berpotensi menuju kepunahan. Dia juga menambahkan bahwa fenomena El Nino tahun ini dapat mempercepat proses kepunahan lapisan es tersebut.

Dwikorita mengungkapkan bahwa Indonesia adalah salah satu lokasi unik di daerah tropis yang memiliki salju abadi. Menurutnya, salju abadi di Puncak Jaya merupakan sebuah keajaiban alam yang menarik perhatian banyak ilmuwan, peneliti, dan pecinta alam. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dilaporkan bahwa luas area salju abadi ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Puncak Carstensz:

Mengapa ada salju di Puncak Carstensz yang berada di wilayah tropis? Meskipun terletak di wilayah tropis, ketinggian Puncak Carstensz yang mencapai 4.884 mdpl menyebabkan suhu udara di puncaknya cukup rendah untuk mendukung keberadaan salju abadi.

Siapa pendaki pertama yang berhasil mencapai Puncak Carstensz? Pendakian pertama yang berhasil mencapai puncak dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh pendaki Austria, Heinrich Harrer, bersama tiga rekannya pada tahun 1962.

Apa saja jalur pendakian yang umum digunakan untuk mencapai Puncak Carstensz? Akses yang paling umum digunakan pendaki untuk menuju Carstensz Pyramid ialah lewat Ilaga dan Sugapa.

Bagaimana kondisi salju abadi di Puncak Carstensz saat ini? Salju abadi di Puncak Carstensz terus menipis akibat pemanasan global dan fenomena El Niño, dengan luas area yang semakin berkurang setiap tahunnya.

Rekomendasi