Menyambut datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat adat Bonokeling melakukan tradisi Unggah-unggahan, pada Kamis (20/2/2025). Mereka berjalan kaki hingga 40 km untuk menziarahi makam leluhur, Ki Bonokeling, di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas.
Anak cucu Bonokeling dalam buku Islam Kejawen, Sistem Keyakinan dan Ritual Anak Cucu Ki Bonokeling (2008), merupakan komunitas Islam kejawen yang bermula dari tokoh bernama Kyai Bonokeling.
Kyai Bonokeling disebut berasal dari daerah Purwokerto, Pasir Luhur, yang kemudian menetap sampai dikuburkan di Pekuncen yang berasal dari kata sucen berarti suci. Anak cucu Bonokeling sendiri lantas menyebar ke berbagai wilayah sampai Cilacap yakni di Adipala, Kroya sampai Kawunganten.
Mereka melakukan perjalanan dengan busana adat yang disebut nurani yakni laki-laki menggunakan iket, kemeja hitam dan kain jarik. Sedangkan, para perempuan berbusana kebaya dan kain jarik.
Selain itu, mereka juga membawa ternak dan bahan makanan untuk dimasak dan dinikmati bersama-sama selama tradisi Unggah-unggahan.