Muhammadiyah Umumkan 1 Maret 2025 Sebagai Awal Ramadan, Simak Cara Perhitungannya

PP Muhammadiyah resmi menetapkan awal Ramadan 1446 H jatuh pada 1 Maret 2025 berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Muhammadiyah Umumkan 1 Maret 2025 Sebagai Awal Ramadan, Simak Cara Perhitungannya
Umat muslim melaksanakan Sholat di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, Jumat (1/4/2022). Masjid Al-Azhar memulai Sholat Tarawih, Jumat malam (1/4), sesuai perhitungan wujudul hilal Majelis Tarjih (© 2025 Liputan6.com)

Penentuan awal bulan Ramadan selalu menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam di Indonesia, mengingat adanya variasi dalam metode penetapannya. Salah satu organisasi Islam terbesar di tanah air, Muhammadiyah, telah mengumumkan bahwa Ramadan 1446 Hijriah akan dimulai pada hari Sabtu, 1 Maret 2025. Keputusan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang selama ini menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Metode ini berbeda dengan rukyat yang mengandalkan pengamatan langsung terhadap hilal; Muhammadiyah memilih pendekatan astronomi untuk memastikan hilal sudah terlihat di atas ufuk saat matahari terbenam. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan, ijtimak atau konjungsi bulan diperkirakan terjadi pada hari Jumat, 28 Februari 2025, pada pukul 07:46:49 WIB. Pada saat matahari terbenam, tinggi bulan diperkirakan mencapai +4 11' 8" di Yogyakarta.

Dengan menggunakan metode ini, Muhammadiyah telah memastikan bahwa 1 Ramadan 1446 H jatuh pada hari Sabtu, 1 Maret 2025. Selain itu, mereka juga telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1446 H atau Hari Raya Idulfitri akan jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025. Bagaimana metode perhitungan ini dilakukan dan apakah ada kemungkinan perbedaan dengan pemerintah? Simak penjelasannya berikut ini, dirangkum Merdeka.com, Senin (17/2).

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah secara resmi mengumumkan awal Ramadan melalui sebuah konferensi pers yang berlangsung di Yogyakarta pada hari Senin, 6 Februari 2025. Dalam acara tersebut, Muhammad Sayuti selaku Sekretaris PP Muhammadiyah mengungkapkan bahwa penetapan awal Ramadan kali ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal, yang telah menjadi acuan standar bagi Muhammadiyah selama bertahun-tahun.

Dalam pengumumannya, Sayuti menegaskan bahwa pada Jumat, 28 Februari 2025, terjadi ijtimak pada pukul 07:46:49 WIB, dan saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, hilal sudah berada di atas ufuk. Dengan demikian, 1 Ramadan 1446 H dipastikan jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Muhammadiyah berharap keputusan ini sesuai dengan maklumat yang telah mereka terbitkan sebelumnya, sehingga dapat menjadi pedoman bagi seluruh umat Muhammadiyah dalam menjalankan ibadah puasa.

"Di wilayah Indonesia, 1 Ramadan 1446 Hijriah/2025 Masehi jatuh pada Sabtu Pahing, 1 Maret 2025 Masehi," kata Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, dikutip dari ANTARA.

Muhammadiyah menerapkan metode hisab hakiki wujudul hilal untuk menentukan awal bulan hijriah, yang berbeda dengan pendekatan rukyat yang digunakan oleh pemerintah dan Nahdlatul Ulama. Metode hisab hakiki ini memastikan bahwa ketika hilal sudah terlihat di atas ufuk, maka bulan baru sudah dimulai, tanpa perlu melakukan pengamatan langsung terhadap keberadaan hilal.

Metode ini didasarkan pada tiga kriteria penting, yaitu terjadinya ijtimak, ijtimak yang terjadi sebelum matahari terbenam, serta keberadaan hilal di atas ufuk saat matahari terbenam. Dengan mengikuti kriteria tersebut, Muhammadiyah memutuskan bahwa awal Ramadan 1446 H akan jatuh pada 1 Maret 2025, karena saat matahari terbenam pada 28 Februari, hilal sudah terlihat.

Pendekatan ini memberikan kepastian dalam penentuan kalender hijriah, sehingga umat Islam dapat mengetahui awal bulan dengan lebih cepat tanpa harus menunggu hasil observasi langsung.

"Pada saat Matahari terbenam, Jumat 28 Februari 2025, di Wilayah Indonesia Bulan berada di atas ufuk (hilal sudah wujud). Di seluruh wilayah Indonesia tanggal 1 Ramadan 1445 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025,” tambahnya, merujuk suaramuhammadiyah.id.

Dalam pendekatan hisab hakiki wujudul hilal yang diterapkan oleh Muhammadiyah, perhitungan astronomi menjadi landasan utama untuk menentukan awal bulan. Sebagai contoh, pada 28 Februari 2025, ijtimak akan terjadi pada pukul 07:46:49 WIB, dan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta, tinggi bulan mencapai +4 11' 8". Ini menunjukkan bahwa hilal telah memenuhi syarat untuk dianggap sebagai awal bulan baru.

Berbeda dengan metode imkan rukyat yang digunakan oleh pemerintah, yang menetapkan kriteria tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat untuk dapat dilihat secara langsung, Muhammadiyah memilih untuk menolak pendekatan tersebut. Penolakan ini disebabkan karena metode imkan rukyat tidak selalu memberikan kepastian yang sama dalam setiap siklus bulan.

Dengan mengadopsi pendekatan wujudul hilal, Muhammadiyah mampu menentukan awal bulan hijriah dengan lebih konsisten, tanpa harus bergantung pada visibilitas hilal yang dapat terpengaruh oleh kondisi cuaca dan faktor-faktor lainnya.

Keputusan yang diambil oleh Muhammadiyah terkait penentuan awal Ramadan sering kali tidak sejalan dengan keputusan pemerintah, hal ini disebabkan oleh perbedaan metode yang mereka gunakan. Namun, untuk tahun ini, terdapat kemungkinan besar bahwa pemerintah akan menetapkan awal Ramadan pada tanggal yang sama dengan Muhammadiyah, mengingat posisi hilal yang cukup tinggi.

Pemerintah berencana menggunakan metode imkan rukyat dalam sidang isbat yang akan dilaksanakan menjelang akhir Februari 2025. Jika hasil rukyat menunjukkan bahwa hilal telah terlihat atau memenuhi kriteria yang ditetapkan, maka pemerintah berpotensi menetapkan 1 Ramadan pada hari Sabtu, 1 Maret 2025, yang akan bersamaan dengan keputusan Muhammadiyah.

Namun, jika hasil rukyat menunjukkan hal yang berbeda, maka ada kemungkinan terjadinya perbedaan dalam penentuan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat diharapkan untuk saling menghormati perbedaan yang ada dalam penetapan awal bulan hijriah.

Selain mengumumkan awal bulan Ramadan, Muhammadiyah juga menetapkan bahwa Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1446 H akan jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025. Keputusan tersebut diambil berdasarkan perhitungan astronomis yang menunjukkan bahwa pada hari Sabtu, 29 Maret 2025, ijtimak terjadi pada pukul 17:59:51 WIB, namun posisi hilal masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian -1 59' 04". Dengan demikian, bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari penuh.

Dengan penetapan ini, tampaknya tidak akan ada perbedaan antara Muhammadiyah dan pemerintah dalam merayakan Idulfitri pada tahun 2025. Hal ini disebabkan oleh metode imkan rukyat yang digunakan oleh pemerintah, yang juga dapat menghasilkan tanggal yang sama.

"Pada saat Matahari terbenam Sabtu, 29 Ramadan 1446 H bertepatan 29 Maret 2025 di seluruh wilayah Indonesia Bulan berada di bawah ufuk. Umur Bulan Ramadan 1446 H disempurnakan (istikmal) menjadi 30 hari. Di wilayah Indonesia tanggal 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025," imbuhnya.

1. Mengapa Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan lebih awal dibanding pemerintah?

Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, sedangkan pemerintah memakai imkan rukyat yang bergantung pada pengamatan langsung.

2. Apakah Muhammadiyah dan pemerintah akan berbeda dalam penentuan Idulfitri tahun ini?

Kemungkinan besar tidak, karena posisi hilal saat menjelang 1 Syawal 1446 H membuat kedua metode berpotensi menghasilkan tanggal yang sama.

3. Apakah metode hisab Muhammadiyah lebih akurat dibanding rukyat?

Metode hisab memberikan kepastian lebih awal, sedangkan rukyat bergantung pada visibilitas hilal yang bisa terpengaruh faktor cuaca.

Rekomendasi