Bazar Buku Internasional Big Bad Wolf Books (BBW) kembali hadir di ICE BSD, Tangerang Selatan mulai hari ini hingga 5 Juni mendatang mulai dibuka pukul 09.00 hingga 24.00 WIB dan bebas biaya masuk bazar. Presiden Direktur Big Bad Wolf, Uli Silalahi mengungkapkan, pihaknya menyediakan 50 ribu buku dan hampir 40 persen itu adalah buku Indonesia dan selebihnya buku internasional.
"Tujuan kita membuat buku Bahasa Indonesia lebih banyak tahun ini adalah agar selain Bahasa Inggris, masyarakat juga tetap mencintai budaya dan bahasanya," kata Uli di ICE BSD, Tangerang Selatan, Jumat (26/3).
Tahun ini, kata Uli, BBW mengusung tema Baca Itu Keren. Uli mengatakan bahwa tema kali ini bertujuan untuk membangkitkan gairah membaca buku fisik pada masyarakat khususnya anak-anak.
"BBW Jakarta 2023 membangkitkan gairah membaca buku fisik dengan koleksi serba baru dan pengalaman keren serba seru untuk gaya hidup kekinian yang mengasyikkan. Dengan ruangan yang luas, anak-anak bisa bebas eksplor di sini. Hal itu juga bisa meningkatkan minat mereka terhadap buku," ujar Uli.
Selain di Tangerang Selatan, tahun ini BBW juga akan tur ke 6 kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Balikpapan, dan kota ke-6 akan menjadi kejutan pemberhentian tour dari pameran buku tersebut.
“Saya harap dengan adanya pameran ini misi kita bisa terwujud yaitu menyebarkan buku ke seluruh Indonesia. Karena buku itu adalah jendela dunia,” kata Uli..
Advertisement
Banyak Toko Buku Tutup
Menanggapi banyaknya toko buku yang tutup, Uli Silalahi mengungkapkan peminat dari buku di Indonesia masih cukup banyak.
"Kalau minat baca menurun kayaknya mesti saya cek lagi ya. Karena kita lihat dari kemarin animo yang datang, itu cukup banyak," ungkap Uli.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan peminat buku masih banyak berdatangan ke pameran ini. Misalnya saja di Big Bad Wolf, pengunjung bebas membuka bungkus buku dan melihat isinya.
“Kalau saya bilang (di toko buku) mungkin kurang variatif pilihannya. Jadi kalau kita dikasih variatif dengan harga terjangkau, mungkin peminatnya banyak.”
“Terus kalau di sini kan kalau mau baca ya baca saja. Buka ya buka saja. Nggak apa-apa. Nah kalau kita ngelihat pas kita mau ambil dijaga-jaga, mau buka nggak boleh kan jadi bingung. Apalagi penjaga bukunya kurang tahu referensi. Tambah bingung lagi. Jadi kayaknya itu sih,” tambahnya.
Kendati demikian, Uli mengatakan seluruh masyarakat pun juga masih perlu sama-sama meningkatkan minat baca di Indonesia terutama pada anak-anak.
Misalnya dengan mengubah pola pikir bahwa membaca buku adalah bagian dari gaya hidup. Dengan pola pikir demikian, maka akan semakin banyak masyarakat yang gemar membaca.
“Untuk meningkatkan minat baca, salah satunya kita mengusulkan untuk disarankan di sekolah-sekolah wajib membaca buku. Contohnya seperti di Singapura. Mereka itu masuk di kurikulum. Jadi kalau mau ujian, mereka harus lapor sudah baca buku berapa dan jelasin satu-satu. Nggak ditentukan buku apa,” terang Uli.