Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata bangkit usai dihantam pandemi Covid-19 sejak tahun 2019. Dia mengatakan, bahwa Bali saat ini sedang melakukan transformasi perekonomian. Karena, belajar dari pengalaman pandemi Covid-19 yang membuat terpuruk perekonomian Bali.
"Dengan pengalaman hampir tiga tahun, Bali dilanda Covid-19 seperti juga di negara-negara lain, sektor pariwisata Bali yang berkontribusi lebih dari 54 persen terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Provinsi Bali, itu telah mengalami keterpurukan luar biasa," kata dia di acara Konferensi Tuna Indonesia dan Forum Bisnis Tuna Pesisir Internasional ke-7 di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (24/5).
"Sehingga pada tahun 2020-2021 sampai 2023 ketika pandemi Covid-19 berlangsung pertumbuhan ekonomi di Bali pada tahun 2020 mengalami kontraksi, yaitu minus 9,31 persen sangat parah dan paling rendah dalam sejarah," ungkapnya.
Namun dengan berlalunya waktu ketika pandemi Covid-19 mulai redah di tahun 2021,
sedikit mengalami perbaikan, walaupun masih mengalami kontraksi minus 2,47 persen. Tetapi di tahun 2022 pertumbuhan ekonomi mulai tumbuh dan di tahun 2023 sangat baik dan sudah melebihi target.
"Pada tahun 2022 mengalami kemajuan ekonomi Bali, mulai tumbuh 1,46 persen dan pada tahun 2023 ini sudah lebih maju dan sangat maju, bahkan melebihi dari target yang direncanakan, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan pertama ini sudah mencapai 6,04 persen di atas rata-rata nasional, dan nasional masih 5,4 persen lebih. Dan kami perkirakan ke depan ini akan terus meningkat sejalan upaya kami dari awal memulihkan pariwisata Bali," ujarnya.
Koster menginginkan pertumbuhan ekonomi Bali tidak hanya tertumpu di sektor pariwisata, tapi juga di sektor lain.
"Dalam rangka transformasi perekonomian di Bali, agar Bali tidak didominasi satu sektor pariwisata, karena pariwisata sangat sensitif maka kami telah merancang transformasi perekonomian Bali yang lebih bertumpu pada kekuatan dan potensi yang ada alam Bali," ujarnya.
Advertisement
Pertama adalah potensi di sektor pertanian dan pihaknya telah menerapkan pertanian organik dan saat ini sudah hampir 70 persen pertanian di Bali menggunakan sistem organik.
"Dan tahun 2024, kami targetkan semuanya pertanian di Bali sudah organik, supaya alam Bali ini bersih, sehat dan berkualitas," ujarnya.
Kemudian, yang kedua adalah di sektor kelautan dan perikanan. Pihaknya mengaku telah memiliki peta yang cukup komprehensif mengenai kekayaan lautan di Bali.
"Bali ini kecil-kecil tapi ternyata memiliki kekayaan perikanan yang luar biasa, ada perikanan tangkap dan ada juga perikanan untuk hias dan berbagai sumber daya kelautan lainnya ini luar biasa. Namun selama ini belum digali dan diberdayakan secara optimal," pungkasnya.