Jadi Korban Perundungan, Siswi MAN di Makassar Trauma Masuk Sekolah

Seorang siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar, NA menjadi korban bullying atau perundungan teman sekelasnya sejak September 2022. Meski pernah diselesaikan, orang tua korban menyesalkan perundungan kembali terjadi sehingga putrinya enggan sekolah.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Jadi Korban Perundungan, Siswi MAN di Makassar Trauma Masuk Sekolah
Ilustrasi bullying. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/Filipe Matos Frazao

Seorang siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Makassar, NA menjadi korban bullying atau perundungan teman sekelasnya sejak September 2022. Meski pernah diselesaikan, orang tua korban menyesalkan perundungan kembali terjadi sehingga putrinya enggan sekolah.

Orang tua NA, SW menjelaskan anaknya enggan masuk sekolah karena sering menjadi korban perundungan teman sekelasnya. Perundungan didapatkan NA bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali.

"Sejak September 2022 dan sekarang terulang kembali. Sekolah berpikir bully terhadap anak saya sudah selesai, tapi ternyata masih terjadi," kata SW kepada wartawan, Rabu (10/5).

SW mengaku siswa yang melakukan perundungan terhadap anaknya sebenarnya sudah diketahui, namun tidak ada tindakan tegas dari pihak sekolah. Padahal akibat perundungan itu, anaknya trauma sehingga tidak mau masuk sekolah.

"Saya minta sekolah bertindak tegas, dan meminta pelaku membuat permohonan maaf secara tertulis dan bermeterai," kata dia.

Terpisah, Kepala MAN 2 Makassar Darmawati mengakui adanya perundungan yang dilakukan siswa terhadap siswa lainnya. Ia menyebut perundungan terjadi pada September 2022.

"Sebenarnya sudah selesai masalah itu, karena kejadiannya September 2022. Bahkan sudah dimediasi waktu itu," kata dia.

Ia mengaku saat itu orang tua dari kedua siswa tersebut hadir saat mediasi. Ia pun menyayangkan perundungan tersebut kembali mencuat hingga viral di media sosial (medsos).

"Saya sudah sampaikan kepada keduanya untuk tidak lagi ejek. Bahkan, saya tegaskan jika hal itu kembali terjadi maka konsekuesinya akan mendapat pembinaan dan kami kembalikan ke orang tua masing-masing," sebutnya.

Darmawati menjelaskan awal masalah muncul saat NA membaca berita bohong soal pelaku perundungan inisial MS. Akibat informasi bohong tersebut, MS tidak terima kepada NA.

"Jadi semua sudah saling mengakui kesalahan masing-masing, karena berita yang tidak benar, akhirnya temannya keberatan. Tidak bullying, tapi saya tidak bisa salahkan keduanya, dan harus jadi penengah di antara mereka," ucapnya.

Rekomendasi