TNI AD membantah meneror, mengintimidasi hingga mengancam penyanyi Nindy Ayunda. TNI AD menjelaskan, kedatangan anggota ke rumah Nindy Ayunda untuk menyelidiki informasi terkait dokumen senjata api ilegal yang diklaim pengusaha Dito Mahendra sebagai senjata dari Diponegoro Shooting Club.
"Tidak ada teror, intimidasi, atau ancaman dari TNI kepada Nindy Ayunda," kata Kadispenad Brigjen TNI Hamim Tohari dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (7/4).
Pernyataan Kadispenad tersebut menanggapi beredarnya berita tentang penyanyi Nindy Ayunda yang melapor ke LPSK karena merasa diteror, diintimidasi, atau terancam oleh anggota TNI AD.
"Itu adalah haknya sebagai warga negara. Dan mungkin kita perlu memaklumi bahwa seseorang yang sedang berhadapan dengan masalah cenderung mencari peluang untuk menghindar, mengurangi, atau mengalihkan perhatian publik dengan memunculkan atau membesar-besarkan masalah lain,” kata Hamim, demikian dikutip Antara.
Advertisement
Nindy Ayunda Mengaku Diteror Preman dan Oknum TNI
Penyanyi Nindy Ayunda sebelumnya mendatangi gedung Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kamis (6/4). Nindy mengatakan, tujuannya ke LPSK karena dia mengaku mendapatkan teror hingga diintimidasi sebanyak dua kali.
Pertama, Nindy mendapat intimidasi saat di Palembang, dia diadang 10 preman. Yang kedua, sejumlah oknum TNI mendatangi kediamannya sang adik di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
"Ke sini urusan pribadi, dan tidak ada keterkaitannya jadi saya mau minta perlindungan ke LPSK karena saya sendiri juga tidak tahu kenapa saya bisa disatronin oleh oknum TNI. Dan saya sudah melaporkan ini ke Puspom TNI," kata Nindy.
Sementara itu, Kuasa hukum Nindy Ayunda, Abu Said Pelu menjelaskan maksud kliennya datang ke LPSK untuk melaporkan adanya ancaman yang terjadi kepada ibu dua anak tersebut. Sehingga LPSK dapat memberikan perlindungan untuk Nindy Ayunda yang kali ini hanya sebagai korban dugaan ancaman.
"Harapan kami tentu LPSK dapat memberikan perlindungan kepada klien kami. Nah kalo terkait kasus nanti kami akan jelaskan lebih lanjut lagi karena kami sendiri sampaikan tidak tahu ini terkait kasus apa, sehingga mendapatkan ancaman teror intimidasi," pungkas Abu Said Pelu.