Presiden Joko Widodo melantik Rycko Amelza Dahniel sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Senin (3/4). Rycko menggantikan Boy Rafli Amar yang memasuki masa purna jabatan.
Pria berusia 56 ini merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) dan menjadi lulusan terbaik dengan predikat Adhi Makayasa sehingga dilantik Presiden Soeharto pada tanggal 23 Juli 1988.
Rycko melanjutkan pendidikan sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 1993 dan lulus dengan predikat terbaik.
Advertisement
Pria kelahiran Bogor ini melanjutkan pendidikan di Sekolah Staf dan Pimpinan Lemdiklat Polri (SESPIM) pada tahun 2002 dan lulus dengan predikat terbaik untuk penulisan Naskah Strategis.
Tidak puas dengan pendidikan di lingkup kepolisian, Rycko menempuh pendidikan magisternya di Ilmu Administrasi Universitas Indonesia dan lulus pada tahun 2001. Setelah itu, dia mendapat gelar doktor dari Kajian Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia pada tahun 2008 dengan predikat Cumlaude.
Berbekal ilmu dan pengalamannya, Rycko dilantik oleh Mendikbud Ristek, Nadiem Anwar Makarim sebagai Guru Besar dalam jabatan profesor bidang Kajian Ilmu Kepolisian pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) sejak tanggal 1 Agustus 2020.
Advertisement
Karier kepolisian Rycko diawali ketika ia menjadi Kepala Unit Kejahatan dengan kekerasan pada tahun 1990. Selanjutnya, ia ditugaskan menjadi Instruktur di Akademi Kepolisian Semarang pada tahun 1992.
Belasan jabatan kepolisian pun pernah dijabat oleh Ricky, di antaranya Kepala Polres Metro Jakarta Utara pada 2008, Wakapolda Jawa Barat pada 2013, Kapolda Sumatera Utara pada 2016, Gubernur Akpol pada 2017, Kapolda Jawa Tengah pada 2019.
Tiga tahun terakhir, Rycko menjabat sebagai Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) Polri pada 2020 dan Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri sejak 2021. Terbaru, kini Rycko diangkat sebagai Kepala BNPT.
Advertisement
Perwira bintang tiga ini telah memperoleh berbagai penghargaan, seperti Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Bhayangkara Pratama, Bintang Bhayangkara Nararya, Satyalancana Pengabdian 32 Tahun, Satyalancana Karya Bhakti, dan sejumlah penghargaan lainnya.
Selama berkarier di kepolisian, salah satu kontribusi Rycko adalah ikut serta dalam melumpuhkan teroris bom Bali yang dikepalai Dr. Azahari dan kelompoknya di Kota Batu, Malang pada November 2005.
Reporter Magang: Alya Fathinah