Kawasan wisata alam Ranca Upas di Kabupaten Bandung rusak karena aktivitas pecinta motor trail. Kerusakan ini viral di media sosial.
Salah satu unggahan bahkan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah adanya aktivitas pemotor trail. Dari semula asri menjadi kotor penuh lumpur.
Tanaman bunga rawa (edelweiss rawa) di area itu mati karena dilindas. Padahal, bunga ini tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Tanaman itu disebutkan hanya bisa tumbuh adalah Ranca Upas dan Danau Ciharus.
Berdasarkan informasi dihimpun, acara motor trail bertajuk "Ranca Upas Camping Adventure Explore 2023" ini diduga diselenggarakan kelompok atau komunitas bernama Tramaxss. Hal ini bisa dilihat dari unggahan promo acara di akun instagramnya.
Advertisement
Acara yang diikuti seribuan peserta itu tidak terkendali. Panitia pun dianggap tidak becus. Para peserta tampak marah karena janji hadiah dan janji yang diberikan tidak terealisasi. Puncaknya, para peserta membakar beberapa motor. Momen itu pun direkam dan unggahannya sempat viral.
Ribuan peserta yang sudah kecewa melanjutkan aktivitas mengarungi sejumlah kawasan tanpa track yang jelas dan merusak tanaman.
Ucapan permintaan maaf pun disampaikan oleh tiga orang yang mengaku sebagai panitia dan diunggah di akun Instagram @tramaxss. Hanya, ketiganya diduga bukan panitia utama, karena mereka tidak tampak dalam unggahan sebelumnya.
"Saya meminta maaf atas kejadian yang telah terjadi dan kelalaian panitia sehingga merugikan semua pihak, termasuk para sponsor dan penyedia tempat Ranca Upas. Saya sangat menyesali kejadian ini dan sekali lagi mohon maaf semua pihak yang dirugikan, terutama para peserta event," ucap tiga orang dalam video.
Advertisement
Sementara itu, Manajer Site Kampoeng Cai Raca Upas Argo Wibowo mengatakan ada kesalahpahaman antara penyelenggara event dan peserta. Sebabnya, tidak adanya panitia di jalur sehingga peserta menggunakan jalur secara asal-asalan sampai memasuki kawasan savana yang ditumbuhi bunga rawa.
"Nah, kami sangat menyesalkan adanya kejadian itu dan meminta permohonan maaf mewakili manajemen, dan mungkin ke depannya menjadi pelajaran bagi manajemen kami terkait aturan, SOP, dan event-event tertentu, jadi kami akan atasi," ucap Argo.
"Tadi pagi kami bersama masyarakat, dengan koperasi Edelweis Ranca Upas, dan elemen lainya kami melakukan penanaman kembali Bunga Rawa yang tadinya luasannya sekitar 1,5 hektar tapi kita tanami sampai ujung kisaran sekitar 3 hektar," lanjutnya.
Advertisement
Argo mengaku bahwa panitia menyebut peserta acara hanya sekitar 700 orang dan semua izin sudah dipenuhi. Tapi, pada saat acara berlangsung, ada sekitar 1.600 orang peserta.
"Ketika kami tahu ada peserta 700 yang masuk, kita anggap panitia profesional, karena perizinan sudah komplet. Tapi ternyata pas event berlangsung itu ada 1.600 an peserta," ucap dia.
"Kalau di izin di Perhutani itu ada ketentuan-ketentuan yang melarang jalur yang tidak pada tempatnya, kita sudah melakukan event ini sebanyak tiga kali dan tidak membuka jalur yang baru dan menggunakan jalur yang lama, jadi langkah-langkah pencegahannya sudah sedemikian rupa, dan sudah memaksimalkan atau antisipasi apabila ada chaos atau seperti apa," terang Argo.
Masalah ini mendapat perhatian karena merusak alam. Disinggung mengenai upaya hukum yang akan ditempuh untuk panitia yang tidak profesional, Argo mengaku fokus pada perbaikan.
"Kami lebih memilih langkah untuk meredam saja, kami lebih memilih untuk melakukan langkah ke depan seperti apa, karena saling menyalahkan juga kurang baik. Ya mungkin bisa dibilang seperti itu (panitia tidak professional), tapi pas pelaksanaan panitia blunder akhirnya para peserta masuk rawa padahal itu sudah dilarang, kita sudah pakai race line tapi tetap peserta masih mabal," pungkasnya.