Kemenkes soal Ibu Hamil Meninggal usai Ditolak RSUD Subang: Satu Nyawa Berharga

Nadia memastikan kasus ibu hamil meninggal dunia karena tak ditangani RSUD Subang sedang ditangani Dinas Kesehatan Jawa Barat.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Kemenkes soal Ibu Hamil Meninggal usai Ditolak RSUD Subang: Satu Nyawa Berharga
jubir vaksin siti nadia tarmizi. ©2021 Merdeka.com/liputan6

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons kejadian pilu seorang ibu hamil yang meninggal dunia akibat tak ditangani Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Subang, Jawa Barat. RSUD Subang menolak memberikan penanganan dengan alasan ruangan sudah penuh.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, seharusnya peristiwa tersebut tidak terjadi. Setiap fasilitas kesehatan harus memberikan pelayanan kepada pasien.

“Seharusnya tidak perlu hal seperti ini, karena satu nyawa pun berharga,” tegas Nadia kepada merdeka.com, Selasa (7/3).

Nadia memastikan kasus ibu hamil meninggal dunia karena tak ditangani RSUD Subang sedang ditangani Dinas Kesehatan Jawa Barat.

“Ini di Dinkes dan Pemda setempat dulu,” ujar Nadia.

Ibu hamil yang meninggal dunia tersebut bernama Kurnaesih (39). Sebelum dirujuk ke RSUD Subang, Kurnaesih dibawa ke puskesmas karena mengalami panas dan kejang. Suami Kurnaesih, Juju Junaedi, menceritakan kondisi yang dialami sang istri.

Pada Kamis (16/2) malam lalu, kondisi istrinya tidak berangsur baik usai ditangani tenaga kesehatan di puskesmas. Sehingga akhirnya harus dirujuk ke RSUD Subang, karena khawatir bisa berefek pada sang bayi yang sudah dikandung sembilan bulan.

Dia pun dibantu Bidan Desa Buniara untuk mengurus segala kebutuhan dan koordinasi dengan pihak RSUD Subang. Sekira pukul 21.00 WIB, Kurnaesih masuk ke ruang IGD. Di sana dia mendapat perawatan sebentar dan dipindahkan ke ruang Ruangan Khusus Ibu Melahirkan (PONEK).

Hanya saja, di ruang tersebut Kurnaesih tidak mendapat perawatan maksimal padahal keadaannya sudah kritis ditambah sudah waktunya melahirkan. Alasannya yang diberikan, ruangan tersebut penuh sehingga pihak keluarga diminta untuk mencari fasilitas Kesehatan lain.

Bidan desa yang menemani keluarga Juju akhirnya memutuskan untuk mencari rumah sakit di Kota Bandung. Namun, di tengah perjalanan, Kurnaesih beserta anak yang sudah memasuki usia dilahirkan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

"Istri saya ngedrop, panas kejang. Akhirnya dibawa ke Puskesmas, tapi enggak ada perubahan. Akhirnya dibawa ke (RSUD) Subang. Di IGD diterima, tapi ketika mau dibawa ke ruangan (PONEK) ditolak, sebab tidak ada konfirmasi pasien dari Tanjungsiang," ucap Juju.

"Kondisinya sudah mengkhawatirkan, kasihan. Akhirnya diputuskan dibawa ke Bandung menggunakan ambulans puskesmas, tapi di perjalanan enggak kuat, akhirnya meninggal dunia," dia melanjutkan seraya menyebut bahwa anak yang di kandungnya itu harusnya anak keempatnya.

Juju mengapresiasi dukungan dan bantuan dari bidan desa dan puskesmas dalam upaya menyelamatkan istrinya. Ia berdoa semoga kebaikannya bisa diganti dengan hal yang jauh lebih baik.

Di sisi lain, Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekecewaan pelayanan dari pihak RSUD Subang. Meski demikian, Juju tidak berencana membawa kasus ini ke jalur hukum. Menurut dia, hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh rakyat kecil.

"Dari pihak puskesmas dan bidan desa pelayanannya sangat baik, mereka mengurus dan menelepon ke rumah sakit, hingga memutuskan membantu membawa istri saya ke Rumah Sakit di Bandung," ucap dia.

"Saya menerima ini sebagai takdir. Pasrah saja. Kecewa mah pasti, tapi apa boleh buat, masyarakat kecil seperti saya mana mungkin didenger. Atos weh pasrah (udah pasrah aja). Mudah-mudahan ini kejadian terakhir dan ada perbaikan layanan (dari RSUD Subang). (Enggak akan bawa ke jalur hukum) saya enggak bisa bayangin ribetnya. Masyarakat kecil dan dari kampung harus menerima takdir," pungkasnya.

Pihak RSUD Subang hingga berita ini ditulis belum dapat dikonfirmasi. Nomor ponsel humas berinisial M tidak aktif.

Rekomendasi