Menkes: Kasus Baru Gagal Ginjal Akut Hanya Satu

Satu kasus gagal ginjal akut sempat dirawat di RSCM, tetapi karena terlambat pada akhirnya meninggal dunia.

Ahda Bayhaqi
Oleh Ahda Bayhaqi - Reporter
Menkes: Kasus Baru Gagal Ginjal Akut Hanya Satu
Menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin Bicara Kasus Gagal Ginjal Akut Pada Anak. ©2022 Liputan6.com/Angga Yuniar

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan, salah satu temuan di Jakarta bukan kasus gagal ginjal akut. Satu kasus gagal ginjal akut sempat dirawat di RSCM, tetapi karena terlambat pada akhirnya meninggal dunia.

"Yang satu sudah diconfirm tidak, yang satu confirm iya dan yang confirm gagal ginjal akut ini yang diterima di RSCM sudah terlambat, jadi kita kasih treatment fomipizol karena obatnya udah ada, sudah terlambat, sehingga pada hari yang sama dia wafat," ujar Budi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/2).

Kementerian Kesehatan telah mengambil sampel dari anak tersebut dan dikirimkan ke Labkesda DKI Jakarta. Ditemukan kandungan etilin glikon dan dietilin glikol yang melebihi ambang batas.

"Hasilnya, baik di si anaknya, darahnya ada etilin glikol dan dietilin glikol dan di sampelnya juga ada dengan kader yang di atas batas. Untuk itu kita berkoordinasi dengan BPOM dan diambil juga sampel dan beberapa sampel lain untuk obat tersebut oleh BPOM," ujar Budi.

BPOM telah mengambil sampel obat yang digunakan dan hasilnya memiliki kandungan etilin glikol dan dietilin glikol yang melebihi batas. Kemudian, Budi telah meminta untuk dites di lab pembanding untuk mendapatkan data lebih lengkap.

"Nah nanti saya akan minta Ibu Dirjen sama Ibu Kepala BPOM kalau bisa bersama-sama nanti memberikan keterangan pers ke publik sesudah hasil dari lab independen beberapa ini ada. Sehingga dengan demikian bisa memberikan kejelasan ke masyarakat penyebabnya itu apa," ujar Budi.

Para dokter juga diminta agar memastikan bila ada pasien dengan gejala gagal ginjal akut segera dirujuk ke rumah sakit rujukan ditunjuk.

"Khusus untuk temen-temen dokter, mereka juga sudah kita minta agar bener-bener memastikan kalau ada gejala-gejala seperti yang dulu itu segera dirujuk aja, dirujuk langsung aja ke rumah sakit rujukan yang ditunjuk," ujar Budi.

Menurut Budi, yang menjadi masalah ketika ditemukan gejala tetapi proses rujukannya lama sehingga telat diobati. Padahal bisa diketahui lebih dini.

"Ini sebenarnya agar telat, kita kan sudah tahu obatnya, ketemunya lebih dini harusnya bisa diobati, tapi karena prosesnya rujukannya terlampau lama, berjenjang naik, itu mengakibatkan agak terlambat. Kalau kita tahunya cepet itu kan bisa sebenernya tahu," kata Budi.

"Untuk di sisinya Kemenkes ya, kita minta kepada dokter anak melalui IDAI agar mereka lebih cepat merujuk ke rumah sakit," sambungnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan kembali mendapatkan laporan kasus baru Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA). Padahal, tak ada tambahan kasus sejak Desember 2022.

“Penambahan kasus tercatat pada tahun ini, satu kasus konfirmasi GGAPA dan satu kasus suspek” kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril dalan rilis resminya, Senin (6/2).

Dua kasus tersebut dilaporkan oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Syahril menjelaskan, satu kasus konfirmasi GGAPA merupakan anak berusia 1 tahun yang mengalami demam pada tanggal 25 Januari 2023.

"(Kemudian, anak tersebut) diberikan obat sirop penurun demam yang dibeli di apotek dengan merk Praxion. Pada tanggal 28 Januari, pasien mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil atau anuria," jelas Syahril.

Satu kasus lainnya yang masih merupakan suspek adalah anak berusia 7 tahun, mengalami demam pada tanggal 26 Januari. Kemudian, anak mengkonsumsi obat penurun panas sirop yang dibeli secara mandiri.

Rekomendasi