Beberapa waktu lalu Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, meresmikan pabrik minyak makan merah PTPN di Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Menurutnya, minyak makan merah ini merupakan upaya untuk mencegah dan menekan angka stunting.
Erick Thohir mengatakan stunting masih terjadi di Indonesia. Karena itu angka stunting berusaha di tekan dari 37 persen menjadi 14 persen di tahun 2023.
"Minyak goreng merah kayak nutrisi dan vitamin E dan Vitamin A. Hal ini memiliki dampak positif sebagai salah satu upaya menekan stunting di Indonesia, yang awalnya 37 persen menjadi 14 persen pada tahun depan," kata Erick Thohir, Selasa (31/1).
Tidak hanya itu, minyak makan merah juga dikatakan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani di Indonesia. Di mana proses produksi dari minyak pengganti minyak goreng tersebut akan melibatkan para petani.
Erick Thohir menargetkan, setiap 1.000 hektare lahan perkebunan sawit akan dibangun satu pabrik produksi minyak makan merah.
Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian BUMN akan bekerja sama dengan koperasi petani setempat.
"Produksi minyak makan merah dapat mendorong ekonomi rakyat, sebab produksinya bekerja sama dengan koperasi petani sawit," tutur Erick.
Erick percaya petani sawit di daerah mampu mengelola sumber daya alam dengan baik. Produksi minyak makan merah diyakininya menjadi nilai tambah bagi para petani.
"Kita percayakan kepada petani bagaimana mengelola sumber daya alamnya, karena itu kami melakukan terobosan mendirikan pabrik minyak makan merah per 1.000 hektare lahan," pungkasnya.