Waspada DBD Setelah Musim Hujan, Kenali Gejala dan Penanganannya Berikut Ini

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat rata-rata jumlah kasus DBD selama lima tahun terakhir mencapai 90.791 kasus. Sementara jumlah kematian mencapai 666 kasus per tahun.

Lydia Fransisca
Oleh Lydia Fransisca - Reporter
Waspada DBD Setelah Musim Hujan, Kenali Gejala dan Penanganannya Berikut Ini
Ilustrasi nyamuk. Shutterstock/Gallinago_media

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat waspadai Demam Berdarah Dengue (DBD). Sebab, kini banyak genangan air yang muncul sehabis musim hujan.

"Setelah musim hujan deras, kemudian hujannya reda, justru di sinilah kita harus waspada. Infeksi dengue masih mengintai kita ya. Dia tidak mengenal umur atau jabatan, siapapun bisa kena ya. Makanya harus tetap waspada," kata Kepala Divisi Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi dan Penyakit Infeksi Tropik IDAI Mulya Rahma Karyanti kepada wartawan, Kamis (26/1).

Mulya juga mengungkapkan, rata-rata jumlah kasus DBD selama lima tahun terakhir mencapai 90.791 kasus. Sementara jumlah kematian mencapai 666 kasus per tahun.

"Yang paling sering terkena adalah populasi anak-anak berusia 5-14 tahun. Ini yang tertinggi ya. Namun saat pandemi, ini yang dominan remaja muda. Tapi kalau kasus kematian, 5-14 tahun yang tertinggi dari enam tahun terakhir," jelas Mulya.

Mulya kembali menjelaskan bahwa DBD disebabkan nyamuk aedes aegypti betina. Nyamuk ini akan mengisap darah manusia untuk pematangan sel telur atau agar dapat berkembang biak. Maka dari itu, jika aedes aegypti telah mengisap darah orang lain dan mengandung virus dengue, virus tersebut masih dapat ditularkan kepada orang lain.

"Nah biasanya gejala enggak langsung timbul. Masa inkubasinya membutuhkan 5-10 hari. Kemudian, baru ada gejala pada penderita sekitarnya," ujar Mulya.

Sayangnya menurut Mulya, nyamuk aedes aegypti senang mengisap darah di siang hari. Berdasarkan pernyataan Mulya, nyamuk ini menggigit sekitar pukul 8-10 pagi atau menjelang sore pada pukul 15.00-17.00 WIB.

Sedangkan gejala dialami orang terkena DBD itu seperti keluhan demam atau nyeri di belakang mata, sakit perut, mual, muntah atau pendarahan.

"Nah ini gejala-gejala yang perlu diwaspadai. Kalau demamnya mendadak tinggi, tiba-tiba kemudian mukanya memerah, flushing,” kata Mulya.

Mulya berpesan, bagi orang tua yang memiliki anak bergejala DBD, harus memperhatikan asupan minuman sang anak. Mulya mengatakan, anak harus rajin minum agar tidak dehidrasi dan perhatikan buang air kecilnya. Jika dalam delapan jam tidak buang air kecil, maka harus segera dibawa ke dokter.

"Kemudian, aktivitasnya dilihat. Anaknya mulai tidur terus atau main. Kalau udah lemas, pusing sekali, pegang gadget saj sudah pusing, maunya pusing, itu hati-hati. Sudah mulai turun aktivitasnya,” tambah Mulya.

Lalu, Mulya meminta orang tua memantau suhu anak. Di hari pertama, kata Mulya, suhu anak masih tinggi. Namun, di hari ketiga sampai keenam, anak akan memasuki fase kritis dan suhu turun dan setelah hari keenam, ketujuh, anak sudah masuk ke fase penyembuhan.

Rekomendasi