41 Bangunan SD di Garut Rusak Berat, Keselamatan Siswa Terancam

Ambruknya atap salah satu sekolah dasar (SD) yang melukai empat murid di Garut menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Mereka langsung melakukan inspeksi dan menemukan 41 unit bangunan SD di daerah itu rusak berat dan perlu perbaikan.

Mochammad Iqbal
Oleh Mochammad Iqbal - Reporter
41 Bangunan SD di Garut Rusak Berat, Keselamatan Siswa Terancam
Ruang kelas sekolah di Garut ambruk. ©2022 Merdeka.com

Ambruknya atap salah satu sekolah dasar (SD) yang melukai empat murid di Garut menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Mereka langsung melakukan inspeksi dan menemukan 41 unit bangunan SD di daerah itu rusak berat dan perlu perbaikan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Garut Nurdin Yana menyebut bahwa awalnya ia menerima laporan terdapat 23 bangunan SD yang rusak. Ia pun sempat mengecek satu per satu dan hasilnya memang kerusakannya cukup parah dan butuh perbaikan.

"Setelah hujan ini kembali terjadi di Garut, ternyata jumlah bangunan yang mengalami kerusakan parah kembali bertambah 18. Jadi total bangunan SD yang rusak berat atau parah sekali ini dari data sementara mencapai 41, itu belum termasuk ruang kelas, atau yang sekolah rusaknya ringan atau sedang," sebut Nurdin, Senin (10/10).

Dengan kondisi tersebut, Nurdin mengaku bahwa pihaknya membutuhkan cukup banyak anggaran, sedangkan di perubahan ini hanya bisa dianggarkan Rp1,8 miliar. Jumlah tersebut menurutnya belum bisa memperbaiki seluruh bangunan SD yang rusak di Kabupaten Garut.

Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat itu, dijelaskan Nurdin, tidak sedikit di antaranya yang bagian atapnya hilang atau bahkan terancam dan mengancam keselamatan. "Ini tentunya membutuhkan treatment sesegera mungkin," jelasnya.

Jadwal Belajar Siswa Dibagi

Sekolah yang mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat, diperkirakan mencapai 30 persen dari 1.400 bangunan SD di Garut. Meski banyak sekolah yang rusak, Nurdin memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak terganggu. Ia menyebut tidak ada yang harus belajar di pengungsian atau belajar di tempat sementara seperti masjid, atau ruang-ruang lainnya.

"Proses KBM di sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat itu dilakukan dengan pola pengaturan jadwal atau shift. Ada yang pagi ada yang siang di bangunan yang ada di sekolah. Terpaksa guru harus menanggung itu," sebutnya.

Nurdin mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Garut saat ini tengah mengantisipasi agar kejadian robohnya atap sekolah saat KBM tidak kembali terjadi. Dinas Pendidikan Garut langsung melakukan inspeksi seluruh bangunan sekolah di Garut, termasuk Bupati Garut Rudy Gunawan melaksanakan rapat bersama seluruh Korwil dan Kepala Sekolah se-Kabupaten Garut.

"Yang disampaikan adalah agar para kepala sekolah melakukan langkah antisipatif dengan tidak membiarkan kerusakan kecil. Karena kan yang kecil kalau dibiarkan rusak jadi berat rusaknya. Pak Bupati juga mengingatkan 20 persen dari BOS (bantuan operasional sekolah) digunakan untuk memperbaiki bangunan yang rusak,” jelasnya.

Kondisi Gedung SMP Lebih Baik

Kerusakan bangunan sekolah, menurut Nurdin sebetulnya bisa diantisipasi kalau kepala sekolah, guru, orang tua siswa memiliki rasa memiliki terhadap sekolah. Dengan begitu, saat terjadi kerusakan-kerusakan kecil, bisa segera dilakukan perbaikan agar tidak merembet dan membesar.

"Dari satu genteng yang bocor saja kan bisa menjadikan atap ruangan ambruk, karena air yang menetes bisa membuat baja jadi korosi, apalagi kalau terkena kayu yang tidak kelas," ungkapnya.

Sementara bangunan sekolah menengah pertama (SMP), menurut Nurdin, kondisinya memang lebih banyak yang kuat dibanding SD. "Kalau bangunan SD banyaknya yang dibangun inpres tahun berapa puluh, sehingga memang kondisinya rapuh," pungkasnya.

Empat Siswa Terluka

Sebelumnya, empat orang siswa sekolah dasar di Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat dilarikan ke puskesmas setelah atap ruang kelas tempat mereka belajar ambruk. Ruang kelas tersebut ambruk saat para siswa sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Selasa (4/10).

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan ruang kelas yang ambruk adalah ruangan belajar kelas 3 bangunan SDN 1 Bunisari, Desa Bunisari, Kecamatan Malangbong. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB atau ketika siswa sedang belajar.

"Ada empat anak yang mengalami luka akibat tertimpa material atap bangunan dan langsung dievakuasi ke Puskesmas Citeras, Malangbong. Ada sejumlah luka yang harus dijahit, para siswa tersebut kini sudah dipulangkan ke rumahnya, rawat jalan," jelas Helmi.

Rekomendasi