5 Fakta Baru Pembunuhan Brigadir J Terungkap di DPR

Menko Polhukam Mahfud MD bersama Komnas HAM serta Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) menghadiri rapat dengan Komisi III DPR RI membahas terkait pembunuhan berencana Brigadir J atau Brigadir Yoshua yang diduga dilakukan Irjen Ferdy Sambo.

Dedi Rahmadi
Oleh Dedi Rahmadi - Reporter
5 Fakta Baru Pembunuhan Brigadir J Terungkap di DPR
Komisi III DPR gelar rapat bahas penembakan Brigadir J. ©Liputan6.com/Angga Yuniar

Menko Polhukam Mahfud MD bersama Komnas HAM serta Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) menghadiri rapat dengan Komisi III DPR RI. Rapat membahas terkait pembunuhan berencana Brigadir J atau Brigadir Yoshua yang diduga dilakukan Irjen Ferdy Sambo.

Mahfud MD yang pertama kali memberikan pemaparan dilanjutkan Ketua Komisioner Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik serta Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo. Mereka memaparkan saat terima laporan awal peristiwa penembakan Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo hingga akhirnya skenario tembak-tembakan terungkap.

Dalam rapat kali ini, terungkap sejumlah fakta baru terkait penembakan yang menewaskan Brigadir J atau Brigadir Yoshua.

Berikut Fakta-Fakta Baru Terungkap:

1. Kuat Maruf yang Ancam Brigadir J

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, mengungkapkan 'Skuad' yang mengancam akan membunuh Brigadir J ternyata adalah sopir dan ART istri Irjen Ferdy Sambo, Kuat Ma'ruf.

"Kami komunikasi dengan Vera (pacar Brigadir J) keterangan cukup detail salah satu intinya bahwa betul tanggal 7 malam kan kematian tanggal 8, memang tanggal 7 ada ancaman pembunuhan," kata Choirul Anam.

Choirul Anam memaparkan, bahwa Brigadir J dilarang bertemu dengan Putri Candrawathi yang pada saat itu berada di lantai atas, karena akan membuat istri Ferdy Sambo sakit. Jika Brigadir J nekat naik keatas, maka diancam akan dibunuh.

"Jadi Yosua dilarang naik ke atas menemui ibu P karena membuat ibu P sakit, kalau naik ke atas akan dibunuh. Jadi komunikasi tanggal 7 malam," ungkapnya.

Mendapat informasi tersebut, Komnas HAM terus menggali, siapa yang memberikan ancaman pembunuhan tersebut. Kala itu, Vera menyebut ancaman berasal dari 'skuad'. Tapi Vera tidak tahu siapa yang dimaksud dengan 'skuad' yang mengancam Yosua.

"Siapa yang melakukan? Vera bilang oleh skuad. Skuad ini siapa, apa ADC apa penjaga, sama sama tidak tahu, saya juga tidak tahu," terang Anam.

"Ujungnya nanti kita tahu bahwa skuad yang dimaksud itu adalah Kuat Ma'ruf. Si Kuat, bukan skuad penjaga ternyata," sambungnya.

2. Irjen Ferdy Sambo Bertemu Komisioner Komnas HAM sambil Menangis

Hal itu diungkap Komisioner Komnas HAM Choirul Anam. Ia mengatakan Ferdy Sambo menemuinya saat peristiwa itu belum ramai muncul ke permukaan.

"Yang pertama-tama saya mau men-state apa yang diucapkan oleh Pak Mahfud, Prof Mahfud, apakah betul saya bertemu sama Sambo. Betul," kata Anam dalam rapat bersama Komisi III DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (22/8).

Anam mengungkapkan, Ferdy Sambo cuma menangis saat bertemu dengannya. Di situ, belum jelas apa sebenarnya kejadian yang terjadi.

"Ketemu cuma nangis-nangis. Saya nggak tahu apa yang terjadi. Terus balik dari Propam saya laporkan ke Pak Taufan (Ketua Komnas HAM) bahwa ini ternyata Pak Sambo cuma nangis-nangis saja. Itu yang terjadi," ujarnya seraya menegaskan pertemuan itu sudah dilaporkan ke Mahfud MD.

Sementara itu, Anam lalu bertanya ke Mahfud apakah masih percaya kepadanya atau tidak.

"Ketika ketemu sama Prof Mahfud saya juga bilang demikian seperti persis yang tadi dibilang Pak Prof Mahfud, cuma kurang lengkap. Kurang lengkapnya terus saya tantang begini, 'Prof Mahfud, dengan kejadian kayak begini Prof Mahfud masih percaya pada saya'. 'Oh percaya saya sama Mas Anam percaya'. 'Kalau percaya tolong hormati saya'," ujarnya.

Dirinya lalu membeberkan alasan bisa bertemu Ferdy Sambo. Menurutnya, ia memang kerap menginformasikan kepada bagian Propam Polri jika ada sebuah kasus.

"Kenapa saya bisa bertemu dengan Pak Sambo, karena memang biasanya sayalah hampir banyak kasus yang saya kirim surat ke Propam maupun ke Bid Propam di polda-polda dan sebagainya itu, dan saya memang sebelum berangkat juga bilang ke Pak Taufan," tutur Anam.

3. Handphone Ajudan Ferdy Sambo Diganti Baru

Hal itu diungkap Komisioner Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik. Taufan mengungkap, telepon seluler para ajudan Ferdy Sambo, termasuk Bharada Eliezer atau Bharada E ditukar dengan yang baru tepat 2 hari setelah insiden penembakan Brigadir J atau Brigadir Yoshua terjadi.

"Penghilangan dan pergantian handphone. Beberapa ADC itu mereka diambil HP-nya. Tanggal 10 jam 1 pagi mereka dikasih HP baru," ungkap Taufan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (22/8).

Sedangkan, telepon seluler Bharada E ditukar dengan yang baru pada tanggal 19 Juli silam.

"Bharada E tanggal 19 diambil oleh Mako Brimob, dikasih lagi HP jenis baru," tuturnya.

Dari ponsel yang baru tersebut, hanya didapati isi pesan berbunyi 'Siap Komandan'.

"Dari HP yang antara 10-19 Juli ditemukan ada upaya-upaya membangun skenario yang jawaban-jawaban bawahan ke atasan 'Siap Komandan' itu sangat ketara di situ," ungkapnya.

Sedangkan, ponsel lama yang biasa mereka (ajudan Ferdy Sambo) pegang hingga saat ini belum ditemukan. "Tapi HP tanggal 10 ke belakang termasuk hari H (penembakan Brigadir J) sampai sekarang belum ditemukan," katanya.

4. Isi Pesan Ancaman Pembunuhan yang Diterima Brigadir J

Terungkap isi pesan ancaman pembunuhan yang diterima Brigadir Yoshua Hutabarat alias Brigadir J. Pesan itu dikirim malam hari sebelum hari pembunuhan Brigadir J.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menjelaskan, pesan ancaman itu diperoleh Komnas HAM dari Vera, kekasih Brigadir J. Vera mendapat pesan ancaman itu langsung dari Brigadir J. Anam merinci perkataan tersebut di hadapan rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/8).

"Josua dilarang naik ke atas menemui Ibu P karena membuat Ibu P sakit. Kalau naik ke atas akan dibunuh. Itu jam 7 malam," kata Anam menirukan isi pesan yang diterima Vera dari Brigadir J saat diinterogasi Komnas HAM pada awal penyelidikan kasus dugaan kematian Brigadir J.

Anam kembali bertanya kepada Vera mengenal sosok yang mengirimkan ancaman itu. Vera mengaku hanya tahu yang mengatakan itu adalah squad.

Awalnya Anam tidak mengetahui squad yang dimaksud. Anam menduga squad dimaksud adalah kelompok ajudan Ferdy Sambo atau Adc atau penjaga dan yang lainnya.

Belakangan, Anam baru mengerti bahwa Squad dimaksud adalah Si Kuat atau KM alias Kuat Ma'ruf. Kuat adalah sopir yang bekerja pada Ferdy Sambo.

5. Foto Brigadir J sesaat usai Dieksekusi Irjen Ferdy Sambo

Komnas HAM mengungkap mengantongi foto jenazah Brigadir J sesaat usai dieksekusi Irjen Ferdy Sambo, yakni pada tanggal 8 Juli 2022 sore.

"Kami dapatkan rekam jejak digital foto tanggal 8 di TKP," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam rapat bersama Komisi III, Senin (22/8).

Anam menyebut foto yang didapatkan berupa foto jenazah Brigadi J sesat setelah dibunuh atau saat masih ada di lokasi pembunuhan.

"Foto di TKP pasca kejadian. Pada posisi jenazah yang masih ada di tempatnya, di posisi Duren Tiga," kata Anam, Senin (22/8).

Menurut Anam ia tidak bisa membuka foto tersebut dalam rapat Komisi III, namun akan diberikan pada Polri untuk penyelidikan. "Tidak bisa dibuka di sini maaf, biar tidak mengganggu proses penyelidikan. Ini nanti akan kami rekomendasikan," kata dia.

Komnas HAM itu mendapatkan jejak digital perintah untuk merusak barang bukti. "Kami juga dapatkan perintah terkait barang bukti, supaya dihilangkan jejaknya, itu juga ada," ucapnya.

Selain itu, Anam menyatakan bahwa jejak digital merupakan hal penting untuk mengungkap kasus pembunuhan Brigadir Yosua Hutabarat (Brigadir J).

Anam menyebut tidak hanya penghilangan handphone para ajudan dan brigadir J melainkan juga semua jejak digital ikut hilang.

Rekomendasi