Delapan korban yang hilang dalam musibah tenggelamnya perahu motor cepat (speedboat) di perairan Pulau Baam dan Pulau Teor, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, belum ditemukan. Tim SAR yang akhirnya menghentikan pencarian karena mereka tidak kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
"Penutupan operasi SAR dilakukan setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian selama 10 hari, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan para korban," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon Mustari di Ambon, Senin (4/4).
Operasi SAR mulai dilaksanakan setelah Kantor SAR Ambon menerima informasi dari Sayuti, pegawai BPBD Kabupaten SBT bahwa pada tanggal 23 Maret 2022 pukul 16.00 WIT, speedboat yang ditumpangi 13 orang tenggelam di perairan antara Pulau Baam dan Pulau Teor.
Advertisement
Camat Teor Selamat
Korban yang selamat dalam musibah ini adalah Camat Teor Indah Adhayati Rumakway, dua pegawai Bappeda Kabupaten SBT Gusti Pattikupang dan Uya Kilkoda, serta dua warga, yakni Idrus Retob dan Husein Keliobas.
Sementara delapan korban yang tidak diketahui nasibnya hingga operasi SAR ditutup adalah Rinto, Ismail Hatala, dan Ibrahim Kilwouw (staf Inspektorat Kabupaten SBT), Fajrin (staf Bappeda), seorang bocah usia tiga tahun bernama Hairudin, serta Jafar Rumatiga, Saida Keliobas, dan Samsia Rumodar (warga).
Menurut dia, selama dilakukan operasi pencarian oleh tim SAR gabungan, baik melalui laut maupun udara sejak tanggal 23 Maret hingga 2 April 2022, tidak membuahkan hasil.
"Sehubungan dengan Operasi SAR telah dilaksanakan hingga Sabtu (2/4) atau selama sepuluh hari dan tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan korban, hasil koordinasi dan evaluasi bersama potensi SAR, operasi SAR dihentikan dan diajukan untuk ditutup," ujarnya seperti dilansir Antara.
Seluruh unsur potensi SAR yang terlibat dikembalikan ke kesatuannya masing-masing. Kegiatan dilanjutkan dengan pemantauan. Jika ditemukan tanda-tanda korban, operasi SAR dibuka kembali.