Korban Pelecehan Seksual dan Perundungan di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI Pusat), MS mengungkapkan keinginannya bertemu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dia hendak menemui Kapolri karena ingin menyampaikan keluh kesah terkait kasusnya.
"Saya ingin sekali bertemu dengan Bapak Kapolri Listyo Sigit," kata MS dalam jumpe pers yang digelar secara virtual, Senin (7/3).
Dia menilai Jenderal Sigit memiliki jiwa reformatif, transformatif, dan mendengar kritik dari rakyat jelata. Sebab, dia menganggap kasus pelecehan seksual yang menimpanya mandek.
Sejak kasus ini dilaporkan ke Polisi (Nomor: LP/B/1183/IX/2021/ SPKT/POLRES METROPOLITAN JAKARTA PUSAT/POLDA METRO JAYA) pada tanggal 1 September 2021 di Polres Jakarta Pusat, kasus dugaan pelecehan masih berstatus penyelidikan dan belum ada perkembangan hingga sekarang.
"Saya merasa sedih dan cemas dengan perkembangan kasus hukum saya yang mandek," tambahnya.
MS juga berharap Polres Jakarta Pusat segera memberikan perkembangan terkait kasus hukum tersebut. Padahal, 9 Desember 2021, hasil Visum et Repertum Psikiatrikum di RS Polri sudah keluar dan dipegang oleh penyidik.
"Saya cemas dan dalam sebulan terakhir, akhirnya saya mengalami sakit lambung karena stress dalam menunggu kapan status hukum naik Penyidikan dan Terlapor ditetapkan Tersangka," katanya.
Ms mengaku kerap mengalami insomnia dan suka menangis tiba-tiba di kamar karena cemas. Bahkan, dia mengungkap sempat terbesit pikiran untuk bunuh diri.
Advertisement
Sebelumnya, kasus pelecehan dan perundungan yang dialami MS oleh sesama rekan pegawai KPI saat ini telah ditangani Polres Metro Jakarta Pusat. Kasus mencuat setelah sepucuk surat yang menceritakan MS alami alami pelecehan dan perundungan sepanjang 2012-2014.
"Selama 2 tahun saya dibully dan dipaksa untuk membelikan makan bagi rekan kerja senior. Mereka bersama sama mengintimidasi yang membuat saya tak berdaya. Padahal kedudukan kami setara dan bukan tugas saya untuk melayani rekan kerja. Tapi mereka secara bersama sama merendahkan dan menindas saya layaknya budak pesuruh."
MS yang bekerja di kantor KPI Pusat sejak 2011 juga mengaku dipukul, dimaki dan direndahkan terus menerus dan berulang-ulang sehingga merasa tertekan, stres dan sakit.
"Puncaknya pada tahun 2015, mereka beramai ramai memegangi kepala, tangan, kaki, menelanjangi, memiting, melecehkan saya dengan mencoret-coret buah zakar saya memakai spidol. Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi. Kok bisa pelecehan jahat macam begini terjadi di KPI Pusat? Sindikat macam apa pelakunya? Bahkan mereka mendokumentasikan kelamin saya dan membuat saya tak berdaya melawan mereka setelah tragedi itu. Semoga foto telanjang saya tidak disebar dan diperjualbelikan di situs online," tuturnya.
"Pelecehan seksual dan perundingan tersebut mengubah pola mental, menjadikan saya stres dan merasa hina, saya trauma berat, tapi mau tak mau harus bertahan demi mencari nafkah. Harus begini bangetkah dunia kerja di KPI? Di Jakarta?" imbuhnya.