Berawal Benjolan pada Gusi, Seorang Remaja di Palangka Raya Menderita Tumor Wajah

Jelianto (17), remaja di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, menderita tumor ganas di wajah. Orang tua Jelianto, Lira Martina (40) menceritakan, awalnya hanya benjolan kecil di gusi sebelah kiri, dan anaknya mengeluh bagian gusi yang mengalami benjolan terasa gatal.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Berawal Benjolan pada Gusi, Seorang Remaja di Palangka Raya Menderita Tumor Wajah
Seorang remaja di Palangka Raya menderita tumor ganas di wajah. Antara

Jelianto (17), remaja di Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, menderita tumor ganas di wajah. Orang tua Jelianto, Lira Martina (40) menceritakan, awalnya hanya benjolan kecil di gusi sebelah kiri, dan anaknya mengeluh bagian gusi yang mengalami benjolan terasa gatal.

Jelianto sudah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit, tetapi tumor di pipinya tidak sembuh juga.

"Kami sangat memerlukan uluran baik dari pemerintah atau para dermawan yang berada di Kalteng, agar anak kami ini dapat sembuh dari penyakitnya," kata Lira Martina di Palangka Raya, Sabtu (5/3). Dikutip dari Antara.

Lira menuturkan bahwa anak lelakinya sudah sembilan bulan menderita tumor ganas di wajah.

Ketika masih berupa benjolan di gusi, keluarga membawa Jelianto ke puskesmas di Kelurahan Tumbang Kunyi, Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya.

Namun penyakit yang diderita anaknya tidak juga sembuh setelah mendapat pengobatan dari puskesmas, sehingga kemudian merujuknya ke rumah sakit di Murung Raya.

"Oleh pihak rumah sakit dirujuk ke RSUD dr Doris Sylvanus untuk dirawat, dan akhirnya kembali dirujuk ke Rumah Sakit Ulin yang berada di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan," beber Lira.

Setelah menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, penyakit Jelianto tidak juga sembuh, bahkan bertambah parah menurut Lira.

Lira, yang bekerja sebagai guru Taman Kanak-Kanak di Kelurahan Tumbang Kunyi, mengatakan bahwa dia sudah menghabiskan setidaknya Rp50 juta untuk keperluan perawatan anaknya.

Meskipun biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, ia mengatakan, keluarga membutuhkan bantuan uang untuk ongkos transportasi bolak balik ke rumah sakit dan keperluan lain yang berkaitan dengan pengobatan Jelianto.

"Kami berharap anak kami dapat dioperasi, sehingga penyakit yang dideritanya ini sembuh dan anak pertama kami tersebut bisa kembali bersekolah," harap Lira.

Karena penyakit yang dia derita, Jelianto kini tidak bisa sekolah lagi. Dia hanya bisa tinggal di rumah bersama keluarganya.

"Untuk makan Jelianto hanya makan bubur dengan cara ditelan, kalau mengunyah makanan rasa sakitnya kembali muncul dan air ludahnya selalu keluar," ujar Lira dengan mata berkaca-kaca.

Lira mengatakan bahwa suaminya, Atmajewi (52) hanya bisa membelikan obat untuk mengurangi rasa sakit Jelianto.

"Untuk obat tersebut kami beli menggunakan uang pribadi. Memang ada dari pihak sekolah, mereka memberikan perhatian beberapa waktu lalu," pungkasnya.

Rekomendasi