Kasus demam berdarah dengue (DB) di Kota Tasikmalaya, sejak awal tahun terus mengalami peningkatan cukup signifikan. Namun pemerintah setempat belum menetapkan hal itu sebagai kejadian luar biasa.
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mencatat setidaknya terdapat 300 kasus DBD di Kota Tasikmalaya sejak awal 2022. Dari jumlah tersebut, empat orang pasien meninggal dunia dan 18 lainnya masih menjalani perawatan.
"Kasus DBD memang terus mengalami penambahan dan saat ini kasus DBD sudah tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kota Tasikmalaya dan hampir di seluruh kelurahan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat, Minggu (6/2).
Uus mengungkapkan bahwa kasus DBD paling banyak ditemukan di Kecamatan Tawang dengan jumlah kasus mencapai 52. Setelahnya Kecamatan Kawalu dengan 49 kasus, Mangkubumi 47 kasus, Cipedes 28 kasus, Tamansari 27 kasus, Cibeureum 25 kasus, Cihideung 20 kasus, Bungursari 18 kasus, Purbaratu 18 kasus, dan Indihiang 16 kasus.
Tingginya kasus di Kota Tasikmalaya menjadi perhatian semua pihak. Bahkan Wali Kota pun menurutnya telah mengeluarkan instruksi agar semua pihak senantiasa waspada terhadap penyebaran DBD dengan melakukan sejumlah antisipasi sejak akhir 2021.
Advertisement
Masyarakat Diminta Berantas Sarang Nyamuk
Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya telah mengeluarkan surat edaran ke Dinas Pendidikan dan kantor Kementerian Agama. "Karena ketika kami ke lapangan, di sekolah dan pesantren ditemukan banyak jentik. Bahkan ada satu pesantren yang kemarin terdapat banyak kasus DBD," ungkapnya.
Selain itu, Uus juga meminta agar masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk, karena nyamuk bersarang di tempat-tempat yang ada genangan air. Pemberantasan sarang nyamuk secara mandiri menjadi hal yang sangat penting dilakukan.
"Fogging memang bisa, tapi itu bukan pilihan utama untuk memberantas nyamuk. Kami juga sudah mendistribusikan bubuk abate ke seluruh puskesmas, sehingga bila ada warga yang membutuhkan bisa datang langsung dan diberikan secara gratis," ujar dia.
Mereka juga mendistribusikan alat tes cepat DBD, yaitu NS1 ke setiap puskesmas yang ada di Kota Tasikmalaya. Dengan tersedianya alat tes itu, maka saat ada warga yang demam bisa dicek langsung.
Advertisement
Wali Kota Klaim Penanganan Maksimal
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya Muhammad Yusuf mengakui pihaknya belum menerapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas meningkatnya kasus DBD di wilayahnya. Walau begitu, ia memastikan bahwa penanganan kasus DBD akan tetap dilakukan secara maksimal.
"Kami belum KLB. Namun, pencegahan dan penanganan terus dilakukan," katanya.
Yusuf telah mengeluarkan instruksi kepada seluruh kecamatan hingga kelurahan untuk menyosialisasikan pencegahan DBD di lingkungannya. "Warga juga kami harapkan untuk selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dan itu terus kami sosialisasikan," sebutnya.