Kondisi Desa Tamilouw Maluku Usai Insiden Penembakan Polisi, Warga Palang Jalan Poros

"Sementara kita melakukan upaya pendekatan secara persuasif, melibatkan pemda setempat dengan masyarakat setempat agar bisa membuka akses jalan di daerah tersebut," tutupnya.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Kondisi Desa Tamilouw Maluku Usai Insiden Penembakan Polisi, Warga Palang Jalan Poros
ilustrasi garis polisi. ©2021 Merdeka.com

Polisi memastikan kondisi di lokasi terjadinya penembakan yang menimpa belasan warga di Kabupaten Maluku Tengah, pada Rabu (7/12) sekitar pukul 05.20 Wit, sudah aman. Insiden penembakan diduga dipicu adanya perampasan senjata api (Senpi).

"Situasinya sampai saat ini aman," kata kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M Roem Ohoirat saat dihubungi merdeka.com, Rabu (7/12).

Kendati demikian, masyarakat yang di lokasi tersebut masih melakukan pemalangan jalan. Sehingga membuat lalu lintas menjadi macet.

"Karena desa itu tepat di jalan poros, sehingga mereka melakukan pemalangan terhadap jalan. Nah akibat dari pemalangan ini lalu lintas macet. Sudah barang tentu aktivitas masyarakat di wilayah itu terganggu," ujarnya.

Untuk dapat membuka akses jalan tersebut, pihaknya akan melakukan pendekatan terhadap Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.

"Sementara kita melakukan upaya pendekatan secara persuasif, melibatkan pemda setempat dengan masyarakat setempat agar bisa membuka akses jalan di daerah tersebut," tutupnya.

Versi Tokoh Masyarakat

Sebanyak 18 warga Desa Tamilouw, Kecamatan Amahai di Kabupaten Maluku Tengah terkena tembakan aparat kepolisian pada Selasa, (7/12) subuh sekitar pukul 05.20 WIT.

"Seluruh korban, tiga diantaranya ibu-ibu saat ini sementara menjalani perawatan medis di Puskesmas Tamilou. Namun, dua orang diantaranya telah dirujuk ke RSUD Masohi," kata tokoh masyarakat Tamilouw, Habiba Pelu, seperti dilansir Antara.

Akibat insiden tersebut, tokoh masyarakat, sesepuh, mahasiswa, dan pemuda Tamilou di Kota Ambon langsung menemui Wakapolda Maluku Brijen Pol Jan de Fretes. Mereka melaporkan dan meminta pertanggungjawaban Kapolres Malteng, AKBP Rosita Umasugy.

Insiden penembakan warga ini bermula dari beberapa ibu yang hendak membuang sampah dan berpapasan dengan aparat Polres Maluku Tengah.

Kehadiran aparat kepolisian ini menuju Dusun Ampera dan Tamilou selaku desa induk hendak menangkap pemicu keributan warga Tamilouw dengan warga Dusun Rohua.

Sejumlah warga yang diduga melakukan aksi penebangan tanaman umur panjang milik warga Dusun Rohua dan pembakaran balai desa sudah dipanggil polisi namun mereka tidak hadir.

"Sesuai dengan hasil informasi bahwa awalnya ada upaya penangkapan terhadap beberapa oknum terkait peristiwa warga Tamilouw dengan warga Dusun Rohuwa beberapa waktu lalu," ujar Habiba.

Versi Polisi

Polda Maluku menurunkan tim Propam ke Desa Tamilou, Kecamatan Amahi, Kabupaten Maluku Tengah guna melakukan pemeriksaan terkait insiden penembakan yang melukai belasan warga akibat perampasan senjata api (Senpi).

"Tim Propam Polda sudah diturunkan ke TKP untuk menyelidik apakah langkah yang dilakukan anggota kami sudah sesuai prosedur dan koridor atau belum," kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol M. Roem Ohoirat di Ambon, Selasa.

Menurut dia, kalau memang itu tidak sesuai maka terhadap mereka tentunya akan diambil tindakan. Namun, sebaliknya kalau setiap langkah yang diambil sudah sesuai prosedur yang berlaku maka kepada mereka di lapangan tidak bisa dipersalahkan.

"Tetapi kita tunggu hasilnya seperti apa, dan barusan saya komunikasi dengan salah satu tokoh di sana yang mengakui tadi memang sempat terjadi aksi perampasan senjata, baik senjata genggam maupun senjata bahu dan terjadi tarik-menarik sehingga ada yang keluarkan tembakan," ujar Kabid Humas.

Rekomendasi