Cabuli Siswi, Guru SMK di Flores Timur Diberhentikan

SW, guru SMKN 1 Larantuka, Watowiti, Kabupaten Flores Timur (Flotim) diberhentikan lantarann mencabuli muridnya. Kebijakan itu diambil setelah pihak sekolah melakukan pemeriksaan terhadap guru tersebut.

Ananias Petrus
Oleh Ananias Petrus - Reporter
Cabuli Siswi, Guru SMK di Flores Timur Diberhentikan
Ilustrasi kekerasan. ©2018 Merdeka.com

SW, guru SMKN 1 Larantuka, Watowiti, Kabupaten Flores Timur (Flotim) diberhentikan lantarann mencabuli muridnya. Kebijakan itu diambil setelah pihak sekolah melakukan pemeriksaan terhadap guru tersebut.

"Karena dia (SW) statusnya guru honor, maka kewenangannya ada pada kepala sekolah dan komite sekolah. Saat itu juga dia diberhentikan. Surat pemberhentiannya sejak tanggal 1 November," kata Kepala SMKN 1 Larantuka, Fransiskus Didu Bas Fernandez, Senin lalu.

SW diketahui merupakan alumni dari sekolahan itu juga. Sebagai guru honorer, SW suadh dua tahun mengajar.

"Saat kuliah, praktiknya juga di sini. Setelah wisuda, kebetulan kita ada butuh guru, dia kita panggil ngajar," sambungnya.

Fransiskus mengakui informasi kasus tersebut diperoleh dari masyarakat, dua minggu setelah kejadian. Setelah mendapat informasi itu, ia kemudian melakukan investigasi dan memanggil korban.

Kepadanya, korban menceritakan secara polos dari awal hingga dia mengalami perlakuan tak senonoh dari guru.

Untuk mengkonfirmasi pengakuan korban, Fransiskus memanggil SW. Terduga pelaku pun tidak berkelit. Dia mengakui semua perbuatannya, namun SW sempat mengaku kalau aksinya itu sebagai bukti suka sama suka.

"Menurut guru (pelaku), mereka lakukan karena suka-sama suka. Tapi saya tidak terima alasan dia karena menurut saya, apa yang dilakukan oleh seorang guru terhadap anak didiknya itu salah. Guru harus melihat siswa sebagai anak, orang tua menitipkan anaknya di sekolah maka di sekolah guru harus sebagai orang tua dan siswa adalah anak. Anak harus dilindungi," katanya.

Untuk menjaga psikologi korban agar tetap menjalankan aktivitas di sekolah, melalui rapat dewan guru, Fransiskus sudah menginstruksikan semua guru agar korban didampingi secara khusus guru bimbingan konseling (BK), maupun guru wali.

"Saya melihat dia punya keinginan untuk tetap sekolah. Sehingga saya sudah tegaskan, anak ini harus dijaga khusus, agar ia bisa bangkit. Beri dia penguatan dan motivasi sampai dia benar-benar kembali percaya diri," tegasnya.

Fransiskus menambahkan, selain menjaga psikologi korban melalui pendampingan guru BK, pihak sekolah juga telah memberi imbauan kepada semua siswa, melalui guru wali untuk mencegah bullying di sekolah.

"Secara kasat mata saya lihat dia (korban) sudah mulai membaik, apalagi dua pekan ini dia sudah ikut pelajaran di sekolah. Tapi saya yakin psikologisnya masih terganggu. Kepada semua guru wali, saya sudah tegaskan agar beri imbauan ke siswa-siswa lain agar tidak boleh ada bullying. Kita sungguh-sungguh menjaga, karena anak ini adalah korban. Kalau korban, perlu kita dilindungi," tutupnya.

Sebelumnya, nasib nahas dialami seorang siswi SMKN di Larantuka. Gadis berusia 16 tahun ini menjadi korban pencabulan gurunya berinisial SW.

Aksi guru bejat ini dilakukan dengan modus mengajak korban pacaran. SW sengaja mengungkapkan perasaan cintanya, lalu mengajak korban untuk berpacaran. Tanpa menaruh curiga, gadis lugu ini pun menerima ungkapan cinta guru tersebut.

Saat berpacaran, SW pun mulai memasang jebakan. Dengan modus mengerjakan tugas, pelaku mengajak korban ke rumahnya di wilayah Watowiti.

Tanpa ada rasa iba, SW mengajak korban ke kamarnya. Di situ pelaku memaksa korban untuk melayani hasrat bejatnya.

Seminggu kemudian korban mengalami pendarahan. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Dalam perawatan tersebut korban menceritakan semuanya. Pengakuan korban membuat keluarga marah, dan mengadukan kasus tersebut ke Polres Flores Timur.

Rekomendasi