Pemerintah Kota Bandung mencatat kenaikan 8,93 persen bayi yang mengalami stunting. Data tersebut merupakan angka sementara karena proses pengukuran terkendala pandemi Covid-19.
Dari data Dinas Kesehatan Kota Bandung, angka balita stunting mencapai 9.567 atau 8,93 persen dari 107.189 balita yang telah diukur.
Dibandingkan dengan data tahun 2018, persentase angka stunting masih berada di 7,56 persen. Setahun kemudian, angkanya turun menjadi 6,53 persen.
Seksi Promosi dan Pemberdayaan Masyarakat pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung Nilla Avianty mengatakan persentase pada 2020 sempat terkendala karena proses pengukuran bayi terkendala pandemi Covid-19.
"Upaya yang dilakukan untuk menekan angka tersebut kami tahun ini memfokuskan di 15 kelurahan sebagai lokasi untuk pencegahan stunting. Tahun depan, ditambah lagi 15 kelurahan lagi," ujar Nilla, Selasa (31/8).
Ia mengimbau kepada warga agar memperhatikan asupan gizi anak. Ini berlaku bagi para ibu hamil. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat penting. Pasalnya, waktu yang dibutuhkan untuk mengentaskan masalah ini bisa 10 hingga 20 tahun ke depan.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung, Oded M. Danial menyampaikan upaya pencegahan dan penurunan stunting di Kota Bandung dengan melakukan intervensi dengan solusi dan inovasi dimulai dari hulu ke hilir. Yakni fase remaja, ibu hamil, ibu menyusui, serta fase baduta dan balita.
Sejumlah sasaran intervensi tersebut terbagi ke dalam tiga fase. Pertama fase remaja putri, calon pengantin dan pasangan usia subur (PUS). Intervensi dilakukan mulai dari pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri untuk mencegah anemia, pembinaan kelompok pusat inovasi dan konseling remaja, program Hebat (hidup sehat bersama sahabat), sampai dengan edukasi Kesehatan reproduksi calon pengantin.
Kedua, fase ibu hamil dan ibu menyusui yang menyasar pada layanan telekonseling dan Bandung SAE atau sadayana asi ekslusif serta dengan memperhatikan gizi ibu menyusui.
Ketiga, fase baduta (bayi usia sampai dua tahun) dengan mengembangkan pola asuh guna menstimulasi bayi sampai dengan usia balita (bawah lima tahun).
"Inovasi yang berkelanjutan dan menyasar semua kalangan, menjadi tujuan Kota Bandung selalu berkolaborasi dengan semua pihak. Ketahanan pangan menjadi fokus Pemerintah Kota Bandung bersama seluruh stakeholder untuk tangguh menghadapi dampak dari pandemi Covid-19," ucap dia.