Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memberikan penjelasan terkait kondisi cuaca saat pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute penerbangan Jakarta-Pontianak mengalami hilang kontak dan jatuh sekitar pukul 14.36 WIB di sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu.
Menurut anggota Tim Reaksi Analisis Kebencanaan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (TREAK PSTA) LAPAN, Erma Yulihastin, berdasarkan analisis dinamika atmosfer menunjukkan sistem konveksi skala meso terdapat pembentukan awan pola besar, berdurasi panjang, dan semi melingkar telah terbentuk di atas kawasan Lampung dan Laut Jawa di sekitarnya sejak pukul 11.00 WIB, atau beberapa jam sebelum Sriwijaya Air hilang kontak.
"Sistem ini kemudian pecah dan berpropagasi (merambat) ke tenggara, yang berasosiasi dengan pertumbuhan sistem konveksi skala meso lain di atas Jawa bagian barat selama rentang waktu 13.00-15.00 WIB," ujar Erma, Bandung, Minggu (10/1). Dikutip dari Liputan6.com.
Jika dilihat dari kondisi sinoptik (keadaan cuaca berdasar pantauan peta), Erma menjelaskan terdapat vorteks Borneo dan westerly burst (angin baratan kuat) dari Samudra Hindia di sekitar waktu jatuhnya Sriwijaya Air.
Untuk kecepatan burst Erma menerangkan yaitu 7-8 m/det pada ketinggian 1,5 Kilometer yang lebih kuat dibandingkan klimatologis angin monsun baratan atau kurang 3 m/det.
"Sementara kondisi meso (kondisi iklim yang berkaitan dengan variasi dan dinamika pada suatu wilayah seluas beberapa kilometer persegi) di sekitar lokasi kejadian terdapat konvergensi angin dari utara dan barat di permukaan (10 m) yang telah mengintrusi kelembapan dan menumbuhkan sistem konveksi baru dari laut Jawa ke utara Jakarta," kata Erma.
Sedangkan kondisi cuaca lokal, Erma menuturkan terdapat pertumbuhan sistem konveksi di atas lokasi kejadian, menunjukkan koneksi antara sistem konveksi skala meso di bagian utara dan di selatan.
Koneksi ini menunjukkan sistem konveksi di utara tersebut berperan menginduksi konveksi baru sekaligus mengalami propagasi ke selatan.
Pantauan cuaca saat terjadinya peristiwa pesawat Boeing 737-524 Sriwijaya Air hilang kontak dan secara resmi dinyatakan oleh otoritas berwenang mengalami kecelakaan, terekam oleh Satellite Early Warning System (SADEWA) yang merupakan produk litbang LAPAN.
SADEWA ini merupakan aplikasi sistem peringatan dini atmosfer ekstrem berbasis satelit dan model atmosfer yang dikembangkan untuk mendukung riset atmosfer maupun aplikasinya oleh badan operasional terkait.