Nyai Manis Sepuh, Kerbau Keturunan Kiai Slamet Tertua Milik Keraton Solo Mati

Kerbau bule tersebut, kata dia, sakit selama lima hari sebelum akhirnya mati di kandang. Dengan matinya Nyai Manis Sepuh, saat ini jumlah kerbau bule milik Keraton Kasunanan Surakarta tinggal tersisa 21 ekor. Puluhan kerbau tersebut dirawat di tiga kandang kawasan alun-alun selatan.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Nyai Manis Sepuh, Kerbau Keturunan Kiai Slamet Tertua Milik Keraton Solo Mati
Kerbau Keturunan Kyai Slamet Tertua Milik Keraton Solo Mati. ©2020 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kembali kehilangan klangenan dalem (hewan kesayangan) kerbau bule. Nyai Manis Sepuh yang berusia 35 tahun ditemukan mati di kandang Siti Hinggil kidul, keraton, Rabu (11/11) pagi. Pemakaman kerbau keturunan Kiai Slamet itu dilaksanakan sekitar pukul 16.00 WIB.

"Nyai Manis Sepuh itu kerbau paling tua di Keraton Kasunanan Surakarta. Penyebabnya karena sakit radang lambung," ujar pawang kerbau Keraton Surakarta, Hery Sulisyo saat ditemui wartawan.

Hery menjelaskan kerbau bule Nyai Manis Sepuh pernah diperiksakan ke dokter hewan. "Matinya Kerbau bule Nyai Manis Sepuh karena sakit radang lambung. Kami sudah periksakan ke dokter hewan. Sakitnya sakit radang lambung, kalau makan selalu muntah," jelasnya.

Kerbau bule tersebut, kata dia, sakit selama lima hari sebelum akhirnya mati di kandang.
Dengan matinya Nyai Manis Sepuh, saat ini jumlah kerbau bule milik Keraton Kasunanan Surakarta tinggal tersisa 21 ekor. Puluhan kerbau tersebut dirawat di tiga kandang kawasan alun-alun selatan.

"Prosesi penguburan dilakukan secara adat Keraton Surakarta. Pemakaman dilakukan di sekitar kandang," jelasnya.

Sebelum dimakamkan, dikatakannya, kerbau dimandikan, diberi kain kafan dan didoakan layaknya memakamkan manusia yang meninggal dunia. Usai pemakaman, ada pembacaan doa yang dilakukan Ulama Keraton.

Rekomendasi