Ahli rinologi terkemuka di Inggris mengungkap ciri baru seseorang sudah terpapar Covid-19. Dia menyebut, pembawa virus corona tak bisa mencium bau menyengat atau anosmia (hyposmia).
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, mengatakan gejala tersebut belum ditemukan di Indonesia. Sejak Indonesia mengonfirmasi kasus Covid-19 pada Maret lalu, belum ditemukan fakta ada pasien positif tak bisa mencium bau.
"Khususnya kita di Indonesia di bidang kesehatan masyarakat, pengamat, dan analisis sejauh ini belum sampai ke sana. Belum ada fakta," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Senin (22/6).
Hermawan menyebut, kasus orang tanpa gejala (OTG) sekalipun belum ditemukan ada yang tak bisa mencium bau. Sejauh ini, OTG melaporkan kondisi fisik mereka aman dan tak mengalami gangguan.
Mengenai usulan agar pemeriksaan Covid-19 di pusat-pusat perbelanjaan menggunakan metode uji ketajaman indra penciuman, Hermawan menilai sangat tidak tepat. Sebab, belum ada penelitian resmi yang memastikan bahwa ada orang terpapar Covid-19 kehilangan daya penciumannya.
"Saya rasa nggk relevan. Belum ada fenomena dan analisis sampai ke arah sana," ujarnya.
Hermawan kemudian menyinggung tak perlunya melakukan rapid test di pusat-pusat perbelanjaan. Dia menegaskan, pada dasarnya rapid test tidak efektif untuk mendeteksi ada yang terjangkit virus corona atau sebaliknya.
"Menurut kami tidak ada gunanya. Jadi rapid test itu berguna bila dilakukan oleh pemerintah atau aparatur untuk kepentingan epidemiologi agar pemetaan wilayah lebih jelas dan adanya prioritas yang tepat," katanya.