Dubes RI Ungkap Tempat Hiburan Malam Rawan Penyebaran Covid-19 Setelah Relaksasi

Selain tempat hiburan, tempat ibadah juga menjadi salah satu penyebabnya. Ada beberapa gereja di sekitar Seoul itu sekarang menjadi tempat penyebaran baru.

Ronald
Oleh Ronald - Reporter
Dubes RI Ungkap Tempat Hiburan Malam Rawan Penyebaran Covid-19 Setelah Relaksasi
Air Mancur Pelangi Banpo Bridge, Korea Selatan. ©2014 Merdeka.com/nexttriptourism.com

Duta Besar (Dubes) RI untuk Korea Selatan (Korsel), Umar Hadi menyampaikan, hingga kini Korea Selatan menjadi salah satu negara yang telah melakukan relaksasi terhadap kebijakan Pembatasan Sosial akibat pandemi Virus Corona atau Covid-19. Namun, dalam menjalani kebijakan tatanan baru atau New Normal, tak berjalan sesuai rencana dikarenakan gelombang kedua datang.

"Memang sejak relaksasi tanggal 6 Mei itu, kemudian (Korsel) ternyata muncul kluster-kluster penyebaran baru," kata Umar dalam diskusi yang disiarkan akun YouTube MNC Trijaya bertajuk 'New Normal Lintas Negara', Sabtu (13/6).

Kata Umar, ada beberapa tempat yang diduga menjadi timbulnya gelombang kedua virus asal Wuhan, China ini pada saat penerapan New Normal di Korea Selatan.

"Dari pengalaman di Korea sejak tanggal 6 Mei, yang pertama itu adalah tempat hiburan, terutama tempat hiburan malam itu rawan sekali. Jadi ada satu kluster di Seoul memang itu dari satu tempat hiburan malam," ujarnya.

Selain tempat hiburan, tempat ibadah juga menjadi salah satu penyebabnya. Katanya, ada beberapa gereja di sekitar Seoul itu sekarang menjadi tempat penyebaran baru.

"Yang ketiga baru sekolah, sarana-sarana pendidikan seperti tempat kursus. Keempat itu sarana olahraga, gym (fitness center). Baru berikutnya perkantoran dan toko-toko dan mal," katanya.

Dengan adanya gelombang kedua ini, Pemerintah Korsel pun memutuskan untuk kembali memperketat aturan atau protokol kesehatan.

"Tanggal 29 Mei lalu diperketat lagi. Jadi kembali seperti tempat-tempat ibadah disarankan tidak melakukan kegiatan, tempat museum-museum ditutup lagi, jadi memang ada risikonya dari relaksasi social distancing itu," pungkasnya.

Rekomendasi