Sandiaga Uno mengungkapkan ada tiga hal terkait literasi di sektor pendidikan yang harus dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, langkah ini penting dilakukan di tengah disrupsi sektor pendidikan akibat Covid-19.
Pertama, literasi teknologi. Sistem pembelajaran daring yang dilakukan belakangan ini mensyaratkan adanya literasi teknologi digital bagi seluruh rakyat. Termasuk ketersediaan akses internet hingga ke wilayah pedesaan.
"(Kedua) Literasi data. Karena sistem pendidikan harus melakukan satu transformasi menggunakan big data. Apa saja ke depan kehidupan pasca covid yang membutuhkan peningkatan skill dan keterampilan minat dan bakat," ungkapnya.
Ketiga, literasi perilaku. Hal ini penting sebab anak tetap harus mendapatkan pelajaran terkait perilaku dari orang tua selama menjalani masa belajar dari rumah.
"Literasi terhadap perilaku manusia. Karena teknologi menghubungkan kita juga kita tidak bisa membaca suasana. Kalau kita bertemu kita bisa membaca perilaku. Jadi anak-anak sekarang ini, tetap harus bisa bersentuhan. Walaupun enggak ke rumah ini akan menunggu waktu pandemi ini sudah mulai teratasi sehingga mereka kembali lagi bisa berinteraksi masyarakat juga," ujar dia.
Dalam pandangan dia, Covid-19 memiliki dampak yang cukup positif bagi dunia pendidikan. Karena mendorong terjadinya disrupsi. "Disrupsi ini secara fundamental terjadi karena sistem pendidikan kita memang lama tidak mengalami disrupsi. Selalu anak bangun, mandi, sarapan, berangkat ke sekolah jam 2 siang baru dijemput terus ada ekskul dan sebagainya," ungkapnya.
"Jadi kita orang tua meng-outsource tugas pendidikan pembelajaran anak-anak kepada guru, sekolah, dan kegiatan lain," lanjut dia.
Salah satu bentuk perubahan dalam dunia pendidikan setelah pandemi, yakni dengan lebih banyaknya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka.
"Saya lihat ada yang bagus juga. Jadi sekarang ini mau tidak mau melibatkan orang tua. Karena sekolah kita mengharuskan orang tua untuk mendampingi anaknya waktu sesi dimulai," tandas dia.