Penerobosan kapal-kapal nelayan dan penjaga pantai China ke perairan Indonesia di laut Natuna membuat TNI AL bertindak tegas. Belum lama ini, TNI AL mengusir rombongan kapal nelayan dan penjaga pantai China di laut Natuna karena sudah masuk terlalu jauh ke dalam wilayah perairan Indonesia.
Adalah kapal perang milik TNI, KRI Tjiptadi-381, yang mengusir para kapal China itu. Pengusiran terhadap kapal asing tak cuma kali ini dilakukan KRI Tjiptadi-381.
Pada April 2019, KRI ini juga terlibat konflik dengan kapal penjaga pantai Vietnam di laut Natuna. Bahkan salah satu alutsista TNI ini ditabrak oleh kapal Vietnam sebagai bentuk perlawanan. Berikut kehebatan KRI Tjiptadi-381.
Advertisement
Asal Muasal Nama KRI Tjiptadi-381
Bukan tanpa alasan KRI tersebut dinamakan Tjiptadi-381. Nama Tjiptadi ternyata diambil dari nama seorang kapten TNI-AL yang gugur bersama Komodor Yos Sudarso pada Pertempuran Laut Aru di RI Matjan Tutul pada tanggal 15 Januari 1962.
Advertisement
Kapal Didesain untuk Perang Anti Kapal Selam
KRI Tjiptadi 381 merupakan kapal perang berjenis korvet. Kapal ini didesain untuk perang anti kapal selam di perairan dangkal atau pantai.
Kapal ini dinamai Tjiptadi, mengambil nama seorang kapten TNI AL yang gugur bersama Komodor Yos Sudarso pada Pertempuran Laut Aru di RI Matjan Tutul pada tanggal 15 Januari 1962.
Advertisement
Dilengkapi dengan Berbagai Senjata Mematikan
Ada banyak senjata yang melengkapi KRI Tjiptadi 381. Senjata-senjata itu seperti empat tabung peluncur torpedo 15.7 inci, dua peluncur rudal SA-N-5, rudal darat ke udara, 2 RBU-6000 untuk peranan anti-kapal selam (ASW RL), dan meriam kembar 57mm/70 caliber DP. Kapal ini juga dilengkapi dengan satu senapan 30 mm kembar serbaguna.
Advertisement
Punya Radar dan Sonar
KRI Tjiptadi 381 memiliki radar MR-302/Strut Curve yang bisa digunakan untuk pencarian sasaran di permukaan dan di udara. Radar ini dipadukan dengan sistem kontrol tembakan MR-123 Vympel/Muff Cob.
Kedua alat itu bekerja secara bersamaan dalam memindai area di udara maupun di permukaan. Kapal anti-kapal selam (ASW) ini juga dilengkapi dengan sonar aktif berfrekuensi sederhana di badan kapal dari jenis MG-322T.
Advertisement
Punya Alat untuk Mengelabui Musuh
KRI Tjiptadi 381 memiliki alat bernama PK-16 decol RL yang bisa diluncurkan dalam mode ganggu (distraction) atau menarik (seduction) untuk mengelabui rudal musuh. Selain itu ia juga mempunyai sistem pemantau Watch Dog intercept.
Kapal juga memiliki tiga mesin disel yang dihubungkan dengan tiga gandar untuk menghasilkan tenaga sebesar 14,250 bhp, dengan kecepatan beroperasi 24 nm.
Advertisement
Tolak Klaim China Atas Natuna
Pemerintah Indonesia menegaskan menolak klaim China atau Tiongkok terhadap wilayah Natuna. Hal ini disampaikan usai rapat koordinasi terbatas di kantor Kemenko Polhukam.
"Indonesia tidak pernah akan mengakui nine dash line, klaim sepihak yang dilakukan oleh Tiongkok yang tidak memiliki alasan hukum yang diakui oleh hukum internasional, terutama UNCLOS 1982," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (3/1/2020).
Dia menuturkan, dalam rapat tersebut, pemerintah memastikan bahwa kapal-kapal China telah melakukan pelanggaran-pelanggaran di wilayah ZEE Indonesia.
Menurut Retno ZEE Indonesia telah ditetapkan oleh hukum internasional yaitu melalui UNCLOS 1982.
"Tiongkok merupakan salah satu party dari UNCLOS 1982. Oleh karena itu merupakan kewajiban bagi Tiongkok untuk menghormati implementasi dari UNCLOS 1982," ujarnya.