Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menuturkan penyebaran wabah Flu babi Afrika atau dikenal juga dengan African Swine Fever (ASF) berada di tiga Kabupaten di Sumatera Utara. Sehingga menurutnya, untuk dampak ekspor daging babi ada namun skalanya kecil.
"Iya hanya tiga kabupaten saja, tentu saja ada dampaknya tapi skalanya kecil. Tidak perlu khawatir dan kita sudah tangani dengan baik," kata Syahrul saat kunjungan kerja (Kunker) di Wantilan Kertha Sabha Rumah Jabatan Gubernur Bali, Sabtu (4/1).
Dia menerangkan, wabah virus flu babi Afrika menyerang secara tiba-tiba. Namun yang perlu diingat adalah virus itu tidak mengenai seluruh Indonesia.
"Dan apa yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah di sana bersama Bapak Gubernur adalah melakukan isolasi full,, dan melakukan pemeriksaan untuk tidak mengeluarkan (daging babi) itu," ujarnya.
Untuk mengantisipasi penyebaran, pemerintah memusnahkan babi yang terjangkit virus. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan ketat di daerah yang terkontaminasi.
"Tidak ada jalan (lain), hanya untuk membersihkan. Jangan lupa, hanya tiga kabupaten yang terkontaminasi dan flu babi dari Afrika itu tidak berkaitan dengan manusia," jelasnya.
Advertisement
Dorong Program KUR untuk Petani
Di tempat sama, Syahrul Yasin Limpo mendorong terwujudnya petani mandiri modern dan maju melalui program Kredit Usaha (KUR) Rakyat. Dalam setiap provinsi, akan mendapatkan dana KUR sebesar Rp 1 triliun.
"Kami dorong sekarang adalah pakai kredit usaha rakyat. (Sebenarnya) tidak ada yang berubah dari segi bantuan. Tapi yang diutamakan adalah rakyat membeli sendiri dengan fasilitas kredit usaha rakyat yang memang bunga kreditnya sangat rendah," kata Syahrul.
Ia juga menyebutkan, bahwa bunga kredit KUR ialah 6 persen yang menurutnya sangat rendah bagi para petani atau kelompok petani.
"Itu membuat rakyat sendiri menghitung dengan skala pasar, skala bisnis atau bisnis plan yang benar dituntun oleh seluruh jajaran-jajaran pertanian pemerintah daerah untuk bisa menemukan itu," ujarnya.
Dana KUR diambil dari anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Kami dapat jatah KUR di pertanian itu sekitar Rp 50 triliun. Oleh karena itu, karena Bali sudah terlalu siap dengan langkahnya seperti itu. Iya silakan saja pakai Rp 1 triliun, lebih dari Rp 1 triliun juga boleh, sepanjang bukan bagi-bagi," ungkapnya.
Syahrul menyampaikan, bahwa dana KUR dinilai lebih efektif ketimbang memberikan mesin traktor kepada para petani.
"Begini kalau dia (petani) cuma di bagian traktor, kadang-kadang kalau rusak sedikit karburatornya, macet sedikit, dianggap (rusak) jadi besi tua dan akhirnya dibuang," katanya.