Partai Golkar mengecam dan mengutuk keras peristiwa penusukkan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang. Ketua Korbid Hankam, Kumham, Hublu Diaspora & Ekonomi Pedesaan partai Golkar, Happy Bone Zulkarnain menilai kasus tersebut menunjukkan masih berkembangnya anasir radikalisme.
Selain itu, kata dia, peristiwa itu mencederai demokrasi yang akan berefek terhadap terganggunya investasi dan pertumbuhan khususnya di Pandeglang dan Indonesia pada umumnya.
"Saya mengimbau masyarakat untuk bahu membahu bersama aparat penegak hukum membentengi ancaman radikalisme tersebut," kata Happy Bone di Jakarta, Jumat (11/10).
Happy Bone melanjutkan, tanggung jawab masyarakat, individu atau kelompok sebagai bagian dari negara sangat penting dalam mengantisipasi dan menghindari terulangnya kejadian seperti yang dialami oleh Wiranto.
"Keamanan negara bukan hanya tanggung jawab TNI, Polri dan aparat penegak hukum lainnya. Tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat dalam melakukan antisipasi dini, pencerahan, pencegahan dan pendidikan terhadap munculnya benih - benih radikalisme di tanah air," katanya.
Seperti diketahui, Menko Polhukam Wiranto ditusuk Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31) di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten, Kamis (10/10). Saat beraksi Abu Rara didampingi istrinya Fitria Diana (21). Polisi dan BIN menyebut kedua pelaku bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi.
Wiranto mengalami kejadian ini ketika hendak kembali ke Jakarta menggunakan helikopter. Dia baru saja meresmikan gedung kampus Universitas Mathla'ul Anwar Pandeglang serta memberi kuliah umum. Ketika turun dari mobil Land Crusier tiba-tiba diserang.
Wiranto sempat dibawa ke Klinik Menes Medical Center Pandeglang, lalu dirujuk ke RSUD Pandeglang. Selanjutnya, dengan menggunakan helikopter dibawa ke RSPAD untuk menjalani operasi.
Selain Wiranto, Kapolsek Menes Kompol Daryanto, ulama Pandeglang, Fuad dan ajudan Danrem juga menjadi korban. Kompol Daryanto terluka diserang Fitria menggunakan gunting.