UMKM Batik di Bondowoso tengah bergeliat. Upaya itu terlihat antara lain dengan berdirinya asosiasi yang mewadahi perajin batik di Bondowoso.
"Kita sejak Juni kemarin sepakat mendirikan Asosiasi Perajin Batik Bondowoso. Akronimnya masih belum kita tentukan, tetapi beberapa program sudah kita siapkan," ujar Andriyanto, perajin batik yang didaulat menjadi ketua asosiasi, Kamis (12/9).
Sejauh ini, sudah sekitar 20 perajin batik di Bondowoso yang terhimpun dalam asosiasi UMKM tersebut. Salah satu program terdekat yang akan mereka lakukan adalah meningkatkan kualitas batik di Bondowoso. "Kita akan bikin sharing tentang teknik pembuatan batik. Belajar dari daerah lain yang sudah lebih maju, paling dekat dari Jember," papar pria 28 tahun ini.
Selain itu, dalam waktu dekat, asosiasi ini juga akan menghelat pekan batik untuk lebih memperkenalkan batik khas Bondowoso. "Kemungkinan Oktober kita gelar. Batik Bondowoso ini ciri khasnya motif yang sesuai landmark daerah kita, seperti singkong atau pegunungan," papar Andri.
Selain itu, ciri khas batik Bondowoso adalah pada warna yang lebih mencolok. Penguatan Karakteristik batik Bondowoso inilah yang akan menjadi program jangka panjang asosiasi. "Itu program utama kita. Akan kita petakan motif batik di Bondowoso, mungkin seperti blue fire atau lainnya. Nanti diupayakan pengajuan patennya," ujar pemilik UMKM Ijen Batik yang berbasis di Desa Kemirian, Kecamatan Tamanan, Bondowoso ini.
Andri optimistis, dengan kerja keras dan sinergi, UMKM Batik di Bondowoso bisa bersaing dengan daerah lainnya. Gencarnya promosi wisata yang kini sedang digalakkan di Bondowoso, diharapkan bisa ikut memicu gairah perajin batik di Bondowoso. "Kita sekarang mencoba mensinergikan dengan sektor pariwisata. Jadi turis yang berkunjung ke tempat wisata, bisa jadi satu paket dengan kursus membatik dari kita. Ini jadi pengalaman yang mengasyikkan," papar alumnus salah satu SMK bidang tata busana di Bondowoso ini.
Berdirinya asosiasi juga diharapkan bisa memecahkan kendala yang kerap dialami perajin batik di Bondowoso. Salah satunya kesulitan mendatangkan bahan baku dan alat.
"Selama ini kita masih pesan dari Solo, meliputi kain, pewarna, malam dan lain-lain. Karena di Bondowoso belum ada toko yang menjual secara khusus bahan dan peralatan tersebut," papar Andri.
Dengan berdirinya asosiasi, diharapkan bisa dirintis koperasi yang bisa membantu para perajin dalam hal penyediaan bahan baku dan peralatan membatik. "Atau mungkin jika berkenan ada bantuan dari Pemkab agar kita bisa lebih mudah mendapatkan bahan baku dan alat sekaligus menekan biaya," pungkas Andri.