Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengingatkan hakikat berdakwah adalah memberikan pencerahan dan pemahaman kepada jemaah. Dia meminta penceramah jangan menyampaikan materi yang menimbulkan gesekan.
"Jadilah mubalig yang sejuk, baik mengajak dengan cara Nabi, dengan cara para aulia, ulama besar. Semakin arif seseorang dalam berdakwah, itu menandakan dirinya semakin pintar," ujar Nasaruddin dalam keterangannya, Kamis (29/8).
Selain itu, lanjut Nasaruddin, berdakwah yang baik dengan membawa kedamaian, bukan memecah belah dan menyakiti orang lain. Menurutnya, hal itu pernah dilakukan para Wali Songo yang selalu menjadi tamu VVIP kerajaan lokal.
"Enggak usah berdakwah justru menyakiti, apalagi mengusir orang. Kalau belum apa-apa sudah ditakuti orang, itu bukan mencontoh Nabi, Wali Songo," terang mantan wakil menteri agama ini.
Ia mengakui saat ini banyak orang mengaku mubalig, tetapi kelakuannya tak mencerminkan mubalig. Apalagi kadang, mereka yang baru membaca Alquran terjemahan, sudah mengklaim sebagai seorang mubalig atau ulama. Alhasil, mubalig seperti ini justru membuat perpecahan, ketakutan, dan korban di masyarakat.
"Seorang mubalig itu tidak akan pernah menyakiti publik dengan ucapannya. Saya pastikan itu bukan mubalig kalau ceramahnya berisi adu domba, ujaran kebencian, apalagi fitnah. Sekali lagi itu bukan mubalig, bisa jadi dia provokator," ungkapnya.
Dia menyarankan, masyarakat harus bisa membedakan mana mubalig baik, dan mana mubalig tidak baik. Karena itu, Nasaruddin mengajak para mubalig untuk belajar lebih dalam lagi agar ilmu pengetahuan dan mentalitasnya berbanding lurus.
"Jangan kegedean ilmunya, tapi mentalitasnya kecil. Enggak imbang itu," tandasnya.