Kisah WNI Nyoblos di Luar Negeri, Kedinginan Sampai Tempuh Ratusan Kilometer

Banyak cerita para wni yang melakukan pemilu di luar negeri. Berikut kisahnya:

Fellyanda Suci Agiesta
Oleh Fellyanda Suci Agiesta - Reporter
Kisah WNI Nyoblos di Luar Negeri, Kedinginan Sampai Tempuh Ratusan Kilometer
Pemilu di Luar Negeri 2019 di Sydney. ©Twitter/@juanvittoriou

Warga negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri telah ikut Pemilu 2019 dengan antusias. Mereka berbondong-bondong datang ke TPS untuk menyalurkan hak suaranya.

Pemilu di luar negeri menyisakan beberapa kisah seru. Ada yang berjalan lancar, namun ada juga yang terjadi masalah. Berikut ini beberapa kisah WNI nyoblos di luar negeri:

Pianis dan penulis Indonesia yang tinggal di Belanda, Karina Andjani (28) harus menempuh 107,5 kilometer dari rumahnya di Kota s-Hertogenbosch ke TPS di Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH) untuk mengikuti pemilu presiden dan anggota legislatif pada 13 April 2019.

Sepengetahuan Karina, banyak WNI di Belanda memilih langsung ke Den Haag karena tidak mendapat kiriman surat suara melalui pos. Pemilu di Belanda dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu mencoblos langsung di TPS di Den Haag, dan mengirim surat suara via pos ke PPLN setempat.

Untuk mencoblos langsung, pemilih disarankan membawa salah satu kartu identitas berupa paspor, surat tugas laksana paspor (SPLP), atau kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).

Selain tiga dokumen itu, pemilih juga dapat membawa formulir C6 atau surat suara dan formulir A5 atau dokumen yang menyatakan pindah lokasi pemilihan.

Di Belanda, sistem pencoblosan bisa dilakukan di rumah. Ada 2.044 surat suara yang dikirim ke WNI di Belanda. Setelah warga mencoblos surat suara itu, mereka mengirim ke panitia pemilihan luar negeri (PPLN). Namun surat suara itu malah balik ke alamat si pengirim. Seperti cerita Fifi, warga Indonesia di Belanda. Ia sangat antusias dengan Pemilu 2019. Saat surat suara dari PPLN tiba di rumah, dia langsung mencoblos capres dan caleg pilihannya. Lalu segera mengirim kembali surat suara yang sudah dilengkapi dengan amplop balasan itu.Sampai di kantor pos, petugas mengatakan tidak perlu perangko, karena sudah ada kode Postbus (di Indonesia biasanya digunakan PO BOX). Percaya dengan ucapan petugas pos tersebut, Fifi pulang dengan tenang.Dia kemudian pergi liburan singkat ke luar Belanda. Alangkah kagetnya Fifi saat kembali dari liburan, mendapatkan surat suara yang seharusnya sudah diterima PPLN Den Haag, kembali ke alamat rumahnya dengan keterangan bahwa ia harus membubuhkan perangko. Saat itu juga dengan perasaan cemas karena takut kehilangan hak suaranya, Fifi langsung ke kantor pos dan membeli perangko supaya surat suaranya bisa segera sampai ke PPLN Den Haag tepat waktu.

Masih di Belanda, WNI di negara tersebut sangat antusias ikut pemilu di Sekolah Indonesia Den Haag, Wassenar, Sabtu (13/4). Hal tersebut dikatakan oleh penyanyi Asti Dewi, cucu seniman Gesang yang menciptakan lagu Bengawan Solo.Minister Counsellor Fungsi Pensosbud KBRI Den Haag, Belanda, Renata Siagian menyebutkan, cuaca yang dingin, dengan suhu hampir nol derajat dan antrean yang cukup panjang, tidak menyurutkan semangat 4.530 warga Indonesia berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk memilih Presiden, Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)."Tingkat partisipasi Pemilu 2019 merupakan yang terbesar dalam sejarah pelaksanaan pemilu nasional di Belanda," katanya.

Ratusan WNI di Sydney, Australia dikabarkan tak bisa menggunakan hak pilihnya. Menurut salah satu mahasiswa di University of Sydney, Evan Kriswandi Soendjojo, kejadian itu terjadi di TPS Town Hall, tengah kota Sydney.Ia menceritakan, pemilu di TPS Town Hall sempat terlambat buka sekitar satu jam dari jadwal sebenarnya, yakni pukul 08.00 waktu setempat. Evan melanjutkan, TPS Town Hall mengalami penumpukan calon pemilih yang sebelumnya belum melapor sebagai DPT. Mereka datang langsung untuk mendaftar di lokasi pada hari-H pemilu di Sydney.Para calon pemilih yang tidak masuk dalam DPT dan mendaftar langsung pada hari-H disediakan surat suara cadangan. "Namun masalahnya, banyak pemilih di TPS itu yang justru tidak melapor sebagai DPT. Polemik ditambah lagi dengan TPS yang tutup tepat waktu jam 18.00 tanpa perpanjangan atau antisipasi kendala. Tutup ya langsung tutup, sementara masih ada kerumunan di luar TPS," lanjutnya.Akhirnya para calon pemilih berinisiatif ke TPS di KJRI Sydney yang diperpanjang sampai pukul 19.00. Meskipun ada WNI yang tetap bertahan di TPS Town Hall. Karena banyak WNI yang tak bisa menggunakan hak pilihnya, akhirnya mereka ramai-ramai membuat petisi agar pemilu di Sydney diulang.

Para mahasiswa di Universitas Recep Tayyib Erdogan malakukan pencoblosan di Ankara, Turki. Mohan, salah satu mahasiswa menceritakan mereka melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan bus selama 12 jam, dari Kota Rize menuju Tempat Pemungutan Suara Luar Negeri (TPSLN) Ankara. Padahal dari segi jarak, sebenarnya Mohan dan rekan-rekannya lebih dekat ke Ibu Kota Georgia, Tiblsi, di wilayah Caucasus atau Ibu Kota Kurdistan, Erbil. Namun kedua kota tersebut tidak ada TPS sehingga mereka harus menempuh perjalanan ke Ankara.Perjuangan mereka tak sampai di situ, setibanya mereka di Ankara, mereka disambut dengan hujan es yang kerap terjadi di masa pancaroba di Turki.

Rekomendasi