Ratusan orang meninggal dunia akibat tsunami yang menerjang Banten, Jawa Barat, dan Lampung Selatan, pada Sabtu (22/12) malam. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai pukul 07.00 WIB, sudah 281 orang meninggal dunia dan 1.016 luka-luka.
Pantauan merdeka.com dari Anyer hingga Pandeglang, masih banyak warga dan petugas Polri-TNI, dan juga ormas-ormas yang membersihkan sisa-sisa tsunami. Jalan-jalan pun banyak yang tertutup oleh pasir dan tanah.
Sepanjang jalan, terlihat juga belasan kendaraan roda empat yang hancur diterjang air yang tingginya mencapai 5 hingga 8 meter. Kendaraan pun terhanyut hingga 15 hingga 50 meter dari tepi pantai.
Salah satu korban yang mobilnya terhanyut hingga 50 meter, Dori, mengaku menemukan kendaraannya KIA warna hitam berpelat B 1002 KYD tersangkut di pepohonan. Mobil tersebut terlihat sudah hancur.
"Saya dua jam cari kendaraan saya mas, soalnya saya kan lari ke gunung selamatkan diri, saya tinggal ini (mobil)," katanya saat ditemui di Desa Sukarame, Pandeglang, Banten, Jawa Barat, Senin (24/12).
Dori mengatakan, saat kejadian ia melihat muntahan api dari anak Gunung Krakatau.
"Itu kaya kembang api ya mas, terus ada asap hitam pekat gitu," ujarnya.
Dia merasa bersyukur bisa lolos dari bencana tersebut dan tak permasalahkan mobilnya yang rusak.
"Ya saya Alhamdulillah ya mas, kalau barangkan bisa dicari kalau nyawakan nggak mas," pungkasnya.