Dugaan permainan skor yang terjadi di liga dua terbongkar di acara Mata Najwa, Rabu (28/11) malam kemarin. Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto yang juga hadir kembali angkat bicara, kata dia, kejadian tersebut bisa menjadi kesempatan baik bagi PSSI untuk memulihkan citranya dan reputasinya.
"Sekarang saya meminta kepada PSSI tunjukan kepada publik bahwa pengaturan skor kali ini bisa diatasi oleh PSSI. Kalau ini gagal, PSSI agak sulit untuk mengembalikan kepercayaan, karena kenapa? Salah satu yang merusak bola itu ya pengaturan skor," katanya saat ditemui di ruang kerjanya lantai tiga Kemenpora, Senayan, Jakarta, Kamis (29/10).
Apalagi kata dia, terkait permainan skor itu sudah ada perangkat hukumnya dalam Undang-undang Nomor 11 tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap yang masih berlaku. Ia juga meminta pihak kepolisian untuk membantu masalah ini.
"Proaktif lah PSSI, jangan nunggu 'habis enggak ada yang melaporkan' gitu," harapnya.
"Kita mengingatkan atau kalau enggak, PSSI kami undang secara baik-baik. Biasanya menjelang Kongres itu PSSI itu sowan kepada Pak Menpora, mereka datang ke sini sambil kami tanyakan 'ini kok dugaan pengaturan skor yang dulu terkait Mojokerto dan Madura FC belum selesai' gitu," kata Gatot saat ditanya sampai mana batasan pemerintah dalam kasus ini.
Jika tidak ada sikap yang dilakukan PSSI, Gatot mengatakan, bisa saja misalnya Kemenpora yang mengadukan kasus ini kemudian meminta polisi untuk bergerak. Karena Menpora itu mempunyai kewenangan yang diatur di Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional pada pasal satu butir terakhir, penanggung jawab bidang olahraga adalah menteri terkait yaitu Menpora.
"Dan kalau ada masalah dugaan kriminal kayak gitu Pak Menpora punya kewenangan, meskipun dalam batas koordinasi dengan aparat penegak hukum. Kalau engga, ya ganggu. Ibaratnya, kapan olahraga mau maju kalau ujung-ujungnya kayak gitu aja," jelasnya.
Gatot juga menambahkan kemungkinan minggu depan pihaknya akan berkonsultasi dengan pihak kepolisian untuk membahas bagaimana mengatasi kasus match fixing. Hal ini dilakukan agar kedua pihak mempunyai framing yang sama.
"Minggu depan tapi kami nunggu kedatangan pak Menteri dulu, kami akan melaporkan kalau pak menteri berkenan ya kami akan bergerak ke sana, supaya PSSI tidak tersinggung," ujarnya.