Mantan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Kendari, Fatmawati Faqih, mengaku tak pernah menemani Hasmun Hamzah mengantarkan uang Rp 5 miliar ke kantor DPP PDIP. Ia juga menegaskan tidak pernah memerintahkan Laode Marvin, mantan anak buahnya, menitip uang ke Hasmun.
Jawaban Fatmawati membuat JPU, Ali Fikri, tak bisa menahan menaikkan intonasi suaranya. Bantahan berulang kali terkait fakta persidangan sebelumnya membuatnya gerah.
"Senilai Rp 5 miliar itu anda tahu?" tanya Jaksa Ali kepada Fatma saat memberikan keterangan sebagai saksi untuk terdakwa Adiriatma Dwi Puta dan Asrun di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (19/9).
"Tidak tahu," jawab Fatma.
"Anda tidak ingat kejadian itu? Saudara pernah menyuruh Laode Marvin untuk menitipkan uang ke Pak Hasmun?" cecar jaksa.
"Tidak pernah," jawab Fatma.
"Tidak pernah? Sampai miliar-miliar begini tidak pernah?" ujar jaksa.
Sementara pada persidangan sebelumnya, Direktur Utama PT Sarana Bangun Nusantara, Hasmun Hamzah sekaligus penyuap Adriatma sebagai Wali Kota Kendari dan sang ayah Asrun sebagai mantan Wali Kota Kendari, dan Fatmawati mengakui telah menyokong biaya pencalonan Asrun sebagai Gubernur Sulawesi Tenggara.
Hasmun mengatakan sokongannya terhadap Asrun di antaranya membeli kaos kampanye dan biaya politik Asrun ke partai politik pengusungnya yakni PAN, PKS, PDIP, Hanura, dan Gerindra. Hal itu dia realisasikan saat mengantar uang sejumlah Rp 5 miliar dalam bentuk dolar Amerika Serikat ke kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
Dia menjelaskan, Rp 5 miliar itu berasal dari uang kas perusahaan dengan total Rp 12 miliar. Untuk meringkas bentuk fisik uang, ia kemudian menukarkan Rp 5 miliar ke pecahan dolar Amerika.
"Dolar untuk apa?" tanya jaksa Ali Fikri kepada Hasmun, di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (5/9).
"Ini untuk keperluan partai pendukung. Pernah ke kantor pusat PDIP. Saya bawa dolar kurang lebih Rp 5 miliar," jawab Hasmun.
Tanpa menyebutkan waktu kedatangannya ke markas Banteng itu, dia mengatakan setibanya di kantor DPP PDIP sudah ada seorang pria mengonfirmasi kedatangannya dan mengantar ke lantai tiga. Sementara Hasmun ke atas, Fatmawati menunggu di mobil.
Tiba di lantai tiga, ia diajak ke salah satu ruangan dan sudah ada seorang wanita menunggu. Tanpa basa-basi, kata Hasmun, ia menyerahkan bungkusan berisikan dolar. Setelah dihitung wanita itu, bungkusan dibawa ke ruangan lain yang tersambung dengan tempat sebelumnya. Sepintas, kata Hasmun, ruangan itu terdapat brankas.
"Saya cuma bilang dari Kendari saja, saya setor bungkusannya, dia hitung kemudian dia simpan. Ada pintu connecting saya lihat sepintas ada brankas," ujarnya.
Selesai menyetor uang, Hasmun dan Fatmawati kembali ke Kendari. Selama perjalanan ia mengaku tak menanyakan alasan pemberian uang ke PDIP. Hanya saja, ia berkesimpulan uang itu untuk biaya politik Asrun sebagai Cagub Sulawesi Tenggara. Sebelumnya, kepada Hasmun Fatma dan Adriatma, anak kandung Asrun, beberapa kali bercerita tentang pencalonan Asrun dan membutuhkan biaya besar.