Polres Tangsel sebut penusuk wajah Ahmad Fauzan disembunyikan keluarga

Sebelumnya Polres Tangerang Selatan telah memeriksa 16 pelajar dari dua sekolah Bhipuri dan Sasmita Jaya, terkait kasus tawuran tersebut.

Kirom
Oleh Kirom - Reporter
Polres Tangsel sebut penusuk wajah Ahmad Fauzan disembunyikan keluarga
Siswa SMK di Pamulang korban tawuran. ©2018 Merdeka.com

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Ferdy Irawan menegaskan pelaku penusukan terhadap Ahmad Fauzan (18) korban tewas yang terlibat tawuran pada Selasa 28 Juli 2018 lalu di Jalan Raya Puspiptek, kecamatan Setu, kota Tangerang Selatan. Bukanlah dari sekolah Bhipuri.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi pelajar peserta tawuran. Didapati identitas pelaku yang hingga saat ini masih buron.

"Pelaku masih buron, sudah kami DPO-kan. Saya pastikan pelaku bukan dari dua sekolah tersebut," terang Ferdy, Rabu (8/8) di konfirmasi.

Sebelumnya Polres Tangerang Selatan telah memeriksa 16 pelajar dari dua sekolah Bhipuri dan Sasmita Jaya, terkait kasus tawuran tersebut.

"Setelah kami mintai keterangan, kami dapati identitas pelaku yang saat ini masih bersembunyi. Pelaku bukan dari sekolah Bhipuri, nanti akan kita ungkap setelah tertangkap mohon bersabar, karena kami masih bekerja," terangnya.

Senjata tajam disembunyikan di warung

Lebih jauh, Ferdy mengatakan sejumlah senjata tajam yang dipakai pelajar saat tawuran disembunyikan di sebuah warung.

"Pengakuan mereka (disimpan di warung), tapi ini kita sisir ini, jadi masukan kita jadi fokus nggak cuman ke anak-anak, tapi tempat biasa mereka nongkrong. Dari saksi 16 orang dititipkan di tempat nongkrong. Jadi sekolah nggak bawa," ujar Ferdy.

Namun, polisi tetap fokus kepada pelaku utama karena tengah disembunyikan oleh keluarga, untuk pemilik warung belum diputuskan apakah kena sanksi atau tidak.

"Kita udah tahu, cuma orangnya disembunyikan oleh pihak keluarga. Dari gambar kita udah tahu. Ini masalah waktu (penangkapannya). Kita fokus ke pelaku utama," ujarnya.

Tawuran tersebut, lanjut Ferdy, terjadi secara spontan.

"Keterangan saksi nggak sengaja ketemu. Jadi dua kelompok ketemu dan terjadi lah (tawuran). SMK Bipuri sama Sasmita memang sudah turun temurun itu. History begitu."

Rekomendasi