Organisasi Persatuan Islam (Persis) menggelar silaturahmi akbar di Monumen Perjuangan, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Sabtu (24/2). Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan orang itu, mereka sepakat untuk menyerukan perlawanan terhadap kasus teror kepada ulama.
Massa yang berkumpul berasal dati berbagai wilayah. Bahkan tak sedikit keluarga besar Persis ini berasal dari luar Jabar. Mereka memadati lokasi sejak pagi hari.
Meski tak semua, namun massa kompak mengenakan atribut berupa bendera berwarna hijau. Bahkan, ada beberapa spanduk bergambar almarhum Komandan Brigade Persis Purwoto yang meninggal setelah dianiaya oleh AM.
Seruan perlawanan terhadap aksi teror kepada pemuka agama terdengar dari atas panggung. "Kita tidak rela, lawan. Kita tidak takut," kata salah seorang orator disambut teriakan ribuan massa.
Ketua Umum Persis Aceng Zakaria disela acara mengaku prihatin dengan kasus teror kepada tokoh agama. Ia mengaku heran mengapa kasus penyerangan ini bisa dilakukan oleh orang yang diduga mengalami gangguan jiwa.
"Sungguh aneh akhir-akhir ini pemuka agama diteror, malah ada yang gugur dari Persis," kata Aceng saat melakukan orasi.
Berdasarkan temuan di lapangan, penyerangan terhadap para tokoh agama ini dilakukan orang yang mengalami gangguan jiwa. Ia mengaku heran aksi teror tersebut bisa dilakuka oleh orang yang mengalami gangguan jiwa di waktu berdekatan.
"Ada usaha intimidasi teror oleh orang gila. Sejak kapan mereka kongres serentak menyerang ulama?" tutur dia disambut tawa warga Persis yang hadir.
Namun, menurutnya ada hikmah yang bisa diambil dari serangkaian peristiwa tersebut. Saat ini masyarakat khususnya Persis merapatkan barisan melindungi para tokoh agama.
Semua pihak, baik masyarakat dan polisi saat ini menaruh perhatian lebih kepada pesantren. "Silaturahmi akbar ini merupakan sejarah bagi Persis. Silaturahmi secara langsung menimbulkan kesan dan soliditas dalam berdakwah," pungkasnya.