Presiden RI, Joko Widodo menyebut penataan sungai citarum secara resmi dimulai. Penataan di bulan Februari ini akan difokuskan di wilayah hulu.
Hal itu disampaikan saat ia memberi sambutan dalam pencanangan Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum di Situ Cisanti, Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung, Kamis (22/2).
"Februari dimulai dari hulunya. Pertama adalah menanam tanaman ekologis dan ekonomis. Tadi menanam kopi, pohon puspa, saninten, damar dan tanaman endemik lain," katanya.
Ia berharap semua pihak menjaga dan melakukan gerakan yang sama supaya tumbuhannya bisa menyerap air dan memberi manfaat kepada masyarakat.
Jokowi menuturkan, kedatangannya ke Cisanti bukan sekedar seremonial saja. Namun, mendukung untuk sebuah pekerjaan besar yang butuh penyelesaian yaitu pengembalian keberfungsian Sungai Citarum.
"Ini adalah sebuah pekerjaan besar, tidak mungkin dikerjakan setahun dua tahun. Pekerjaan ini dari hulu ke hilir bisa diselesaikan dalam tujuh tahun," jelasnya.
Dari pengamatannya potensi alam di sekitar situ Cisanti bisa dimanfaatkan seperti diketahui PTPN telah menyerahkan lahan seluas 980 hektare untuk persemaian tanaman.
Kemudian Perhutani juga memberikan lahannya yang diharapkan dapat ditanami tanaman ekologis maupun ekonomis seperti kopi, teh mampu menghijaukan kembali kawasan ini.
Nantinya, Jokowi akan menjadikan Sungai Citarum sebagai percontohan di daerah lain, seperti DAS Bengawan Solo dan DAS Brantas.
"Penanganan DAS Citarum kita foto copy untuk DAS Bengawan Solo, di sungai Berantas dan lain-lain," katanya.
Untuk diketahui, program penataan sungai citarum sudah pernah dibuat beberapa kali, diantaranya Gerakan Citarum Bergetar dan diteruskan dengan Gerakan Citarum Bestari. Kedua kegiatan itu melibatkan semua pihak dengan pendekatan struktural, non struktural dan kultural.
Namun ternyata perbaikan Citarum tidak berjalan baik. Penataan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua daerah harus bekerja bersama secara sinergis. Pasalnya, ada 3.236 industri tekstil yang berada di kawasan sungai 90 persen tidak memiliki IPAL. 280 Ton limbah kimia per hari serta limbah medis (HIV). Kadar mercuri dalam ikan budidaya (lele dan ikan mas) di Citarum jauh melebihi ambang batas aman. Kandungan logam berat (besi dan magaan) pada DAS Citarum juga melebihi ambang batas aman.
Keberadaan sungai sepanjang 297 km dimanfaatkan penduduk Jabar dan DKI. Kontribusinya untuk pembangkit listrik tenaga air sebesar 1.880 MW, lalu, sumber air minum penduduk Jakarta sebesar 80 persen. Selain itu, sungai ini mengairi lahan pertanian 420.000 HA.
Kini, pemerintah pusat memberikan perhatian penuh dengan melibatkan TNI AD, Kepolisian dan seluruh lapisan masyarakat dengan Gerakan ‘Citarum Harum Bestari’.
Nantinya sungai citarum akan dibagi menjadi 22 sektor. Setiap sektornya akan diisi oleh satu kolonel sebagai ketua Satgas.
Seluruh pihak harus mengambil bagian untuk menangani masalah pencemaran Sungai Citarum, yang nantinya dikerjakan secara terintegrasi oleh pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten/kota.
"Selain itu, juga semua kementerian yang terlibat dan yang terpenting Pangdam dan kapolda. Semuanya juga ikut bersama-sama, menjaga secara gotong royong untuk merehabiliasi wilayah daerah sungai citarum ini," paparnya.