Habibi (18) hanya bisa menunduk ketika polisi menginterogasinya. Kepada penyidik, mahasiswa semester satu jurusan manajemen sebuah perguruan tinggi di Pamulang itu mengaku baru beberapa bulan bergabung di geng motor Jembatan Mampang (Jepang).
Geng motor Jepang ini sendiri baru setahun lebih berdiri. Habibi menjadi salah satu pemimpin geng ini. Kegiatan yang dilakukan geng ini sangat meresahkan. Selain pesta miras mereka juga melakukan sejumlah tindak kriminal.
Setiap beraksi, mereka akan mabuk terlebih dulu. Mereka berkumpul di salah satu kontrakan yang sengaja disewa untuk markas. Kontrakan itu terletak di Pitara Pancoran Mas. Dihuni oleh beberapa orang pria dan wanita. Mereka di sana jadi satu tinggal satu atap.
Untuk membayar kontrakan itu mereka pun harus patungan. Setiap bulan uang sewa yang dibayar sebesar Rp 600.00. "Uangnya hasil patungan anak-anak dari uang jajan," kata Habibi, Rabu (27/12).
Geng motor ini dibuat untuk eksistensi jati diri. Mereka ingin menjadi populer di sosial media. Mereka kerap memposting kegiatan mereka di medsos. "Untuk popularitas aja mbak," ungkapnya.
Salah satu yang diposting adalah sajam yang mereka buat sendiri. Tujuannya agar eksistensi mereka diakui. Sajam itu bahkan diproduksi sendiri oleh mereka.
"Yang buat Adit dan Fatur. Kalau saya nggak bisa," tutupnya.