Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan ada dua jenis dimensi ancaman yang akan dihadapi oleh Indonesia. Ancaman tersebut termasuk perang terbuka atau konvensional serta ancaman terorisme dan radikalisme.Menurutnya, perang terbuka atau konvensional antar negara saat ini mungkin saja terjadi. Meskipun, ancaman ini terbilang masih sangat kecil."Tetapi, tetap harus dipersiapkan karena sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman nyata apabila Keutuhan dan Kedaulatan serta keselamatan Bangsa dan Negara terganggu dan diserang," kata Ryamizard di seminar nasional bela negara dies natalis ke 68 Universitas Gadjah Mada ( UGM) Yogyakarta, Selasa (19/12). Turut hadir dalam seminar tersebut Kapolri Jendral Tito Karnavian, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Polpum) Kemendagri, Mayjen Soedarmo. Ryamizard menambahkan, ancaman terorisme dan radikalisme, separatisme dan pemberontakan bersenjata, bencana alam serta lingkungan, merupakan ancaman nyata yang saat ini sedang dihadapi oleh Indonesia. Selain itu, pelanggaran wilayah perbatasan, perompakan dan pencurian Sumber Daya Alam, wabah penyakit, perang siber dan Intelijen serta peredaran dan penyalahgunaan narkoba harus diwaspadai."Selain ancaman fisik tersebut Indonesia juga akan mengahadapi ancaman non-fisik yang dampaknya akan lebih besar. Ancaman dan tantangan tersebut berupa serangan ideologis dengan kekuatan soft power yang berupaya untuk merusak mindset dan jati diri bangsa Indonesia," katanya.Serangan Ideologis inilah, tegas Menhan, yang sering disebut dengan istilah perang modern atau istilah saat ini proxy war, jenis perang baru tanpa perlu berhadapan secara fisik. "Mereka melalui upaya sistemik guna melemahkan dan menghancurkan benteng ideologi suatu bangsa," tuturnya.Menhan pun menekankan guna menghadapi potensi ancaman-ancaman tersebut di atas diperlukan adanya wawasan kebangsaan yang kuat dari seluruh rakyat Indonesia. Tujuannya agar tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh upaya pencucian otak dari kelompok tertentu. "Saya telah mendesain Strategi Pertahanan Negara dengan mengedepankan nilai-nilai perjuangan yang lahir dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia yaitu perjuangan yang menerapkan konsep Perang Rakyat Semesta yang didukung oleh kekuatan TNI beserta Alutsistanya," ucapnya."Strategi Pertahanan tersebut merupakan strategi perang khas Indonesia yang telah menghantarkan bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya, dan menjadikannya suatu Negara-Bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya di dunia," imbuhnya.Selain itu, Menhan juga menyebut, kesadaran Bela Negara juga sangat penting dalam upaya memerangi hal tersebut selaras dengan perang melawan kemiskinan dan kebodohan. Dengan Kesadaran Bela Negara yang tinggi maka akan dihasilkan warga negara Indonesia yang mengenal Jati diri dan amanahnya bagi bangsa dan negara ini.
Menhan desain strategi pertahanan negara dengan kedepankan perjuangan
Menhan desain strategi pertahanan negara dengan kedepankan perjuangan. Menurutnya, perang terbuka atau konvensional antar negara saat ini mungkin saja terjadi. Meskipun, ancaman ini terbilang masih sangat kecil.
Advertisement
Rekomendasi