Berdayakan TKI bermasalah, Mendes ajak kembali ke desa

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengajak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bermasalah di luar negeri untuk kembali ke desa. Saat ini berbagai program pembangunan di kawasan perdesaan mempunyai potensi untuk menyerap banyak tenaga kerja

Rizlia Khairun Nisa
Oleh Rizlia Khairun Nisa - Reporter
Berdayakan TKI bermasalah, Mendes ajak kembali ke desa
Pendidikan dan Pelatihan TKI Purna. ©2017 Merdeka.com

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengajak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bermasalah di luar negeri untuk kembali ke desa. Saat ini berbagai program pembangunan di kawasan perdesaan mempunyai potensi untuk menyerap banyak tenaga kerja."Kami mempunyai berbagai program pembangunan di kawasan perdesaan. Dengan pengalaman kalian di luar negeri, kami yakin anda semua bisa menjadi contoh bagi masyarakat desa di lingkungan kalian," ujar Menteri Eko di hadapan puluhan TKI Bermasalah (TKIB) saat pembukaan Pendidikan dan Pelatihan TKI Purna dalam Program Saya Ingin Sukses di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat (BBPLM), Jakarta (4/12).Hadir dalam acara tersebut Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, Dubes RI untuk Malaysia Rusdi Kirana, Dirut BRI Suprajarto, dan Dirjen Protokolor dan Konsuler Kemenlu Andri Hadi.Eko mengapreasiai program Saya Mau Sukses yang memfasilitasi para TKIB agar lebih berdaya. Program lintas kementerian/lembaga tersebut membantu para TKIB agar mereka tidak putus asa setelah mendapatkan masalah di luar negeri. Dengan program ini, dia yakin para TKIB agar bisa mandiri dengan berwirausaha. "Kami mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Duta Besar Indonesia untuk Malaysia dalam upaya mengatasi permasalahan TKI di Malaysia, salah satunya melalui pelaksanaan Program 'Saya Mau Sukses'," ujarnya.

Pendidikan dan Pelatihan TKI Purna ©2017 Merdeka.com


Dia menegaskan jika Kemendesa PDTT siap memfasilitasi TKIB untuk mendapatkan pelatihan keterampilan seperti menjahit, membuat usaha kuliner, kerajinan, hingga berwirausaha. Dengan berbagai pelatihan tersebut maka TKIB tidak lagi hanya bergerak di sektor informal saat terjun di dunia kerja nyata. "Dengan kerjasama yang banyak pihak seperti BRI dan kalangan swasta seperti Lion Group, para TKI Purna tidak akan kesulitan di persoalan dana dan pemasaran hasil usaha mereka," ujarnya.Lebih jauh Eko mengatakan saat ini alokasi dana desa terus bertambah tiap tahun. Besaran dana tersebut diimplementasikan dalam banyak program yang mampu menyerap jutaan tenaga kerja. Apalagi mulai tahun depan akan ada program padat karya cash yang mengalokasikan minimal 30% dari dana desa atau setara Rp18 triliun. "Jadi ada Rp18 triliun dari dana desa untuk program tersebut, berdasarkan analisa kami dana tersebut bisa menyerapnya sedikitnya 5,7 juta tenaga kerja. Ini tentu peluang yang harus dimanfaatkan oleh para TKIB," ujarnya.Sementara itu Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengharapkan para TKIB bisa tumbuh menjadi wirausahawan produktif yang berorientasi pada pasar kerja. Oleh karena itu mereka harus aktif mengikuti berbagai pelatihan baik yang disediakan oleh pemerintah maupun kalangan swasta. Para TKIB harus mencoba untuk berpikir lebih maju dengan cermat melihat apa yang saat ini dibutuhkan oleh pasar. "Kalo mempunyai passion di bidang jahit menjahit jangan hanya berpikir menjadi penjahit biasa tetapi harus berpikir untuk bisa menjadi desainer sehingga mempunyai nilai lebih tinggi," katanya.

Rekomendasi