Kamis, 7 September 2017, tepat 13 tahun aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Thalib dibunuh. Munir dibunuh dengan cara diracun. Racun tersebut diduga dimasukkan ke dalam makanan atau minumannya saat penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam dengan pesawat Garuda Indonesia GA 974 pada 7 September 2004.13 tahun telah berlalu. Namun hingga kini publik tak pernah secara pasti mengetahui siapa dalang utama pembunuhan dan kenapa Munir harus dibunuh. Istri Munir, Suciwati, pun terus berjuang menuntut keadilan.Tak pernah lelah Suciwati berteriak menuntut keadilan buat suaminya. Dia menuntut penguasa negeri ini membuka pihak-pihak yang terlibat dan mengadili mereka secara hukum. Suciwati menuntut pemerintah membuka dokumen Tim Pencari Fakta (TPF) kasus kematian Munir.Kemarin, Suciwati dan ratusan orang berkumpul di seberang Taman Pandang Istana, Monas, Jakarta pusat. Sambil memakai pakaian hitam dan topeng wajah Munir, mereka melakukan demonstrasi.
Suciwati tangih janji Jokowi ©2017 Merdeka.com/Syifa Hanifah
Aksi kamisan ke-505 ini juga sekaligus memperingati 13 tahun kematian Munir. Dari para aktivis, petani Kendeng hingga aktor Rio Dewanto hadir di lokasi. Mereka secara bergantian menyampaikan orasi damainya. Ada yang membaca puisi, membaca cerpen atau memberikan kesaksian. Dalam orasinya, Suciwati pesimis kasus pembunuhan Munir dapat selesai di tangan Presiden Joko Widodo. Dia meminta Presiden Jokowi untuk menempati janjinya membongkar siapa pembunuhan suaminya."Kita meminta Presiden menepati janjinya jangan dibilang omong kosong saja jadi kita mendorong bahwa omongan seorang Presiden itu dilihat oleh rakyatnya dalam realisasi dan semoga penantian ini tidak panjang. Enggak ada lagi kamis kesekian ratus," katanya, Kamis (7/9) kemarin.Suciwati membuat surat dan dibacakan saat Aksi Kamisan ke-505 untuk Presiden Joko Widodo. Dalam surat yang dibacakan Suciwati menagih janji Jokowi."Masihkah Bapak ingat tanggal 22 September 2015 Anda mengundang 22 pakar hukum dan HAM di situ Anda berjanji akan menuntaskan kasus Munir? Hampir satu tahun saya belum melihat janji yang Bapak Presiden ucapkan terealisasi," katanya."Waktu tak pernah mampu menghapus rasa cinta dan rindu pada orang yang kita cintai. Haruskah rasa kenangan itu hadir dahulu baru menepati janji wahai Bapak Jokowi? Kami berharap tidak!" bacanya.Suci mengatakan 13 tahun bukan waktu sebentar untuk terus merasakan kehilangan tidak saja raga namun juga rasa keadilan. Menurutnya, janji Presiden akan terus menjadi catatan sejarah bangsa ini bahwa Jokowi adalah seorang Presiden yang absen mengisi ruang keadilan bagi Munir.Dia mengingatkan putusan Majelis Hakim Komisi Informasi Pusat (KIP) yang mengabulkan permohonan sengketa informasi yang diajukan pada 10 Oktober 2016 yang meminta Pemerintah RI atau Presiden wajib mengumumkan Tim Pencari Fakta Kematian Meninggalnya Munir (TPF KMM) untuk publik."Masihkah bapak ingat tanggal 14 Oktober 2016 bapak menunjuk Jaksa Agung untuk kasus Munir? Dengan gagah Anda meminta Jaksa Agung segera bekerja menindak lanjuti kasus suami saya Munir," katanya."Namun, apa yang terjadi kemudian? Yang kami temui hiruk pikuk 'cuci tangan dan saling lempar tanggung jawab atas tidak ditemukannya dokumen TPF KMM, apakah Bapak mau menganulir perintah bapak kepada Jaksa Agung? Saya dan segenap rakyat Indonesia tidak memahami dagelan macam apa yang sedang Bapak pertunjukkan," ungkapnya.
Suciwati ©2017 Merdeka.com/Intan Umbrari
Dia mengatakan lewat Aksi Kamisan ke-505, aktivis mencari keadilan untuk Munir tidak akan lelah meminta pertanggungjawaban negara atas derita dan luka bangsa ini, untuk meluruskan sejarah bangsa ini, untuk pengungkapan kebenaran dan keadilan.Menurutnya, dengan aksi yang dilakukan di seberang Istana Negara dengan cara berdiri diam, berpayung dan berbaju hitam, pihaknya berharap mendapat payung keadilan. Suciwati mempertanyakan kehadiran Jokowi yang seakan tutup mata dan telinga."Adakah kabar itu akan hadir? Semoga Anda tidak seperti pendahulu Bapak yang terus memberi ruang kosong keadilan bagi kami. Salam kami dari masyarakat yang terlalu sakit atas kehilangan, yang optimis pada cinta keadilan dan kebenaran," tutupnya.Kemudian pada Kamis malam, peringatan 13 tahun meninggalnya Munir digelar para aktivis hak asasi manusia dengan festival musik yang bertajuk "Mosi tidak percaya" di kantor LBH Jakarta. Mereka mengenakan kostum serba hitam.Suciwati kembali berorasi. Dia kembali mendesak Presiden Jokowi segera membuka hasil tim pencari fakta kematian suaminya."Kalau Presidennya berjanji ya harus ditepati. Sebetulnya itu harapan bukan harapan saya saja tapi harapan banyak orang. Bahwa Munir ada dan berlipat ganda ini bisa lihat itu," kata Suciwati di kantor LBH Jakarta.Dia juga menjelaskan janji menuntaskan kasus Munir merupakan bagian dari Nawacita. Jokowi juga harus serius. "Jangan isu HAM hanya jadi alat komunikasi politik untuk meraup suara rakyat saja," tambah dia.Dia menilai jika pemerintah tidak membahas kembali soal kematian Munir dan tidak membuka dokumen TPF maka Jokowi terkesan melindungi pelanggar HAM."Melihat bahwa bagian dari orang melindungi penjahat Munir dan pelaku pelanggar HAM yang lainnya," katanya.Suciwati juga mengatakan Majelis KIP telah mengabulkan permohonan informasi yang diajukan Jaringan Solidaritas Korban Untuk Keadilan pada 10 Oktober 2016. KIP menyatakan pemerintah wajib mengumumkan hasil TPF kematian Munir kepada publik."Sekarang yang penting bagaimana caranya agar pemerintah ini lebih berani mengungkap kebenaran," katanya.
Advertisement