Fahri Hamzah minta video santri demo full day school diverifikasi untuk cegah fitnah

Fahri Hamzah minta video santri demo full day school diverifikasi untuk cegah fitnah. Fahri meminta terlebih dulu menelusuri keabsahan demo santri yang terekam dalam video berdurasi 1:03 menit itu.

Ronald
Oleh Ronald - Reporter
Fahri Hamzah minta video santri demo full day school diverifikasi untuk cegah fitnah
santri demo tolak full day school. ©2017 Merdeka.com/youtube

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyayangkan aksi demonstrasi para santri menolak aturan lima hari sekolah alias full day school. Fahri meminta terlebih dulu menelusuri keabsahan demo santri yang terekam dalam video berdurasi 1:03 menit itu."Ya itu diverifikasi aja, supaya tidak berlanjut jadi fitnah. Verifikasi aja. Dan minta yang demonya bertanggungjawab apa yang terjadi," ujar Fahri di gedung DPR, Jakarta, Kamis (17/8).Ia enggan berspekulasi lebih jauh mengenai video tersebut. Dia menyarankan terlebih dulu menelusuri keabsahan video tersebut."Ya pokoknya diverifikasi dulu, kita jadi tahu apa yang terjadi," pungkasnya.Sebelumnya, Video demonstrasi sejumlah santri menolak full day school ramai beredar di media sosial. Dalam video demonstrasi berdurasi 1:03 menit itu para santri berteriak dengan mengumpat 'bunuh menterinya sekarang juga'.Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini mengaku telah mendapat klarifikasi terkait aksi dari video yang beredar tersebut. Menurutnya, video itu hoax adanya.Pihaknya mengaku telah melacak video yang viral di media sosial pada Minggu (13/8) lalu itu. Dia pun telah menemukan pihak yang pertama kali mengunggah video tersebut.Helmy menyatakan, video itu disebar bertujuan untuk mencemarkan nama baik NU. Selain itu, aksi yang awalnya dikira terjadi di Purbalingga padahal ternyata terjadi di Lumajang itu diprovokasi oleh oknum tak bertanggungjawab."Kami telah melakukan klarifikasi dan menerima laporan bahwa kejadian yang dikira terjadi di Purbalingga, padahal terjadi di Lumajang tersebut murni merupakan perbuatan oknum yang sengaja memprovokasi massa aksi," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (14/8).

Rekomendasi